Kolam Merah
Mereka meniti sebatang kayu menuju bambu di tengah kolam kental berwarna merah. Ketika Vino terjatuh dan terseret ke dasar, sorak suku terdengar seperti tepuk tangan pertunjukan. Malamnya, Anya dan Hendro—tanpa kata-kata besar—saling jadi sandaran; keintiman rapuh lahir dari cara keduanya mengajari napas bertahan di dunia yang memaksa pelan menjadi sakit.
Pagi itu, kabut tidak pergi—ia hanya mengubah caranya menempel. Lebih tipis, lebih dingin, seperti nafas yang digenggam di telapak tangan. Perkampungan tampak pucat; obor semalam tinggal arang, dan tanah becek menyisakan jejak yang segera menghilang oleh kelembapan.
Mereka dikeluarkan dari kandang tanpa drum, hanya diiringi bunyi rotan yang berderit. Hendro di depan, langkahnya tegak meski matanya kurang tidur. Jo berjalan beberapa langkah di belakangnya, rahang mengeras, telapak tangan masih berkulit pecah akibat memukul jeruji semalam. Anya dan Marga berdampingan—tidak saling menggandeng, tapi ritme kaki mereka cocok seakan tubuh memilih teman jalan sendiri. Vino di belakang Anya, memutar-mutar tutup botol kosong seperti koin gelisah. Helen tak banyak bicara; tatapannya berpindah cepat dari pagar, ke tiang, ke bekas pijakan di tanah—merekam hal-hal kecil yang tak sempat diingat orang lain. Yolanda masih memakai jaket Helen, resletingnya dinaikkan sampai leher; ia menggigit-gigit tepi lengan baju ketika cemas. Yosi berjalan di baris terakhir, memilih tanah yang paling keras agar sepatu tidak tenggelam.
Jalan setapak memaksa mereka menurun lewat akar yang menjulur seperti jari. Suara air terdengar pelan di kejauhan—bukan sungai yang riuh, melainkan gerutuan genangan yang tidak sabar. Ketika kabut terbelah, mereka mendapati sebuah cekungan selebar lapangan kecil. Di tengahnya: kolam. Warnanya merah tua—tidak merah terang, melainkan warna yang berat, menempel di mata. Permukaannya kental, memantulkan langit pucat dengan cara yang tidak mau jernih.
Di tengah kolam, berdiri sebatang bambu tunggal, lurus, licin, setinggi tiang gawang. Dari tepi ke bambu, melintang sepasang batang kayu setipis betis, disangga patok pendek di beberapa titik—cukup untuk satu telapak, tidak untuk ragu.
Salah satu lelaki bercat mengangkat tombak, menunjuk kayu penyeberangan, lalu mengetuk dadanya dua kali, memberi isyarat: lewati satu-satu—kembali lagi—bertahan. Yang jatuh, tidak disebutkan.
“Mataku menolak percaya,” gumam Vino. “Tapi lututku langsung percaya.”
“Kalau kamu jatuh, jangan tarik siapa-siapa,” kata Helen pendek. Nada datar, bukan dingin; nasihat paling jujur hari itu.
“Antri,” perintah Hendro. Ia melirik sekeliling—jarak ke pagar, jumlah penjaga, letak tombak—lalu maju sendiri tanpa menoleh.
Batang kayu meliuk kecil saat diinjak Hendro. Ia membuka kedua lengan, menaruh berat di ujung telapak. Satu langkah, dengus napas. Langkah kedua, bambu tengah semakin dekat. Ketika telapak tangannya menggapai batang licin itu, beberapa penjaga bersiul—entah mengejek, entah salut. Hendro berbalik, menyusuri kayu lagi. Sampai tepi, ia menoleh singkat. “Pelan. Tarik napas. Fokus di satu titik.”
Jo menyambar tempat berikutnya. Batang kayu berayun lebih liar karena berat tubuhnya. Ia mengumpat, menahan goyang dengan bahu yang seperti besi. Sampai bambu, ia menepuknya dua kali, seperti menantang benda mati, lalu kembali. Wajahnya pucat, tapi bibirnya tetap menekan senyum meremeh—pagar yang ia pasang agar takut tidak menyeberang ke muka.
Giliran-giliran berganti. Beberapa siswa hampir terjungkal, ada yang berjongkok memeluk bambu tengah sebelum balik. Yolanda menatap kayu dengan mata membesar. “Aku nggak bisa,” katanya parau. “Aku nggak bisa, aku nggak bisa…” Kata terakhirnya memantul pada permukaan kolam.
“Lihat lututmu,” bisik Helen dari belakang. “Kamu gemetar karena menahan. Tekuk sedikit, jangan kunci. Kunci = jatuh.” Yolanda menelan ludah, mengangguk tanpa berterima kasih. Ia melangkah—jelek, tapi selamat. Ketika sampai tepi, ia tertawa napas, antara lega dan ingin muntah.
Anya menunggu gilirannya sambil meraba garis tipis di lengan—bekas serpihan Episode semalam—yang belum hilang. Marga berdiri satu langkah di belakang. “Kalau kamu ingin mundur, aku duluan,” katanya, tenang.
“Aku nggak mau mundur,” jawab Anya. “Aku cuma… mau ingat cara bernapas.” Ia menarik udara sampai dada sakit, lalu melepasnya perlahan.
Ketika menapakkan kaki, Anya memilih menatap satu titik kecil di batang bambu: parut kecoklatan seukuran kuku. Ia menjadikannya mercusuar. Goyangan kayu terasa seperti tarikan kecil di pergelangan; ia membiarkan tubuh mengikuti, jangan melawan. Sampai bambu, ia menggenggam licin yang dingin, melirik sebentar ke tepi—Marga berdiri di sana, dagu terangkat, mata menahan sesuatu. Anya tersenyum samar. Aku sampai. Ia berbalik, kembali perlahan. Ketika tumitnya menyentuh tanah, Hendro refleks mengangkat tangan, menahan sikunya agar tidak oleng.
Jari-jemari mereka bersentuhan sepersekian detik—hangat, tegas, lalu lepas. Tidak ada kata, tapi ada sesuatu yang pindah: kepercayaan kecil yang belum berani dinamai.
Vino berdiri di ujung kayu, menatap permukaan merah. “Kalau aku jatuh,” katanya dengan suara yang mencoba ringan, “tolong bilang ke pemilik laundry: noda ini tidak dijamin hilang.”
Tidak ada yang tertawa. Bahkan ia pun menutup mulut, sadar tubuhnya butuh seluruh perhatian. Ia melangkah. Satu. Dua. Batang kayu bergerak seperti nafas hewan. “Santai… santai…” gumamnya—lebih untuk menipu sendi sendiri.
Di tengah, ia ragu setengah langkah—dan ragu selalu lebih berat dari kaki. Sepatunya terpeleset tipis. Vino berusaha menjejak ulang, tetapi tumitnya menemukan udara.
“Vino!” Anya menjerit.
Vino jatuh ke samping. Suara plok tumpul memutus silabanya. Cairan merah menyambar, menampar kulit dengan dingin yang menembus. Ia muncul kembali, mengibas tangan, berusaha berenang. “Kental! Ini kental!” Ia berusaha bercanda, tapi panik merampas vokal.
“Jangan panik!” Hendro berteriak—nasihat yang selalu terdengar kejam bagi orang yang panik. Jo merunduk, mencari sesuatu untuk dilempar—tidak ada apa pun kecuali kayu licin yang tak mungkin tercabut.
Vino meraih udara, tenggelam separuh. Cairan itu bukan air: ia memegang, menahan, menarik. Vino muncul lagi, mata lebam oleh ketakutan yang jujur. “An—” namanya patah di gelombang kecil, lalu tubuhnya terseret ke bawah, perlahan, seperti ada tangan yang tak terlihat memegang betis.
Permukaan bergolak sebentar. Lalu diam. Gelembung-gelembung kecil muncul dan meletus pelan, seolah kolam menghela napas.
Anya menutup mulut dengan punggung tangan, rasa logam menempel di lidah. Marga memegang bahunya keras—keras yang berarti jangan dan aku tahu sekaligus. Jo memukul tanah dengan telapak tangannya. “Sial! Sial!” Seseorang di kerumunan penjaga bersiul panjang, diikuti tawa pendek yang tajam. Drum menabuh tiga kali, pendek, ritmis—tepuk tangan yang berubah jadi pukulan.
Hendro menunduk sebentar, menekuk kepala seperti orang yang mengucap sesuatu tanpa bunyi. Helen menatap permukaan kolam satu detik lebih lama dari semua, memetakan gerak kecil yang mungkin berguna lain waktu—kebiasaan yang tidak bisa ia buang, bahkan ketika hatinya juga diseret turun.
Perjalanan kembali terasa lebih sunyi daripada datang. Matahari siang cuma bundaran pucat; bayangan mereka pendek dan ragu. Di dekat kandang, Yolanda berhenti sebentar, memuntahkan cairan bening. Helen menepuk punggungnya sekali—sekali saja—lalu berjalan lagi.
Kandang menelan mereka. Pintu menutup dengan suara kayu tua yang menolak mati.
Tidak ada yang berbicara lama sekali. Anya duduk, punggung pada bambu, mencoba mengatur napas yang terasa seperti kain basah. Marga duduk di sebelah, jarak seukuran telapak. Mereka memandang lurus ke depan, menunggu jantung tidak terlalu keras mengetuk tulang rusuk.
Jo berjalan dari ujung ke ujung kandang, seperti singa yang kehilangan kandang lain. Tansil tidak ada di sudut biasanya. Tempat kosong itu adalah bayangan yang ikut dalam setiap putaran Jo. “Kenapa selalu kita?” suaranya serak, tidak menyalahkan siapa pun, justru karena sedang menyalahkan seluruh dunia. Tidak ada jawaban yang bisa memuaskan kalimat seperti itu.
Hendro duduk menyandar di samping pintu kandang. Ia menunjuk tanah di sebelahnya tanpa menoleh. “Di sini,” katanya pelan. Anya awalnya tidak paham, sampai ia menyadari tubuhnya goyah ketika berdiri. Ia pindah duduk ke tempat yang ditunjuk. Hendro menggeser sedikit agar bahunya menjadi sandaran yang tidak ia minta. Anya tidak menolak.
“Kamu tadi… nggak gemetar,” kata Anya. Suaranya sabut.
“Aku gemetar. Cuma di tempat yang tidak terlihat,” jawab Hendro. Ia mengangkat kedua tangan; jemarinya bergetar halus. “Lihat? Hebat kan trik sulapnya.”
Anya mengembalikan senyum kecil—lelah, tapi hangat. “Terima kasih… tadi di tepi kayu.”
Hendro mengangguk. “Sama-sama. Terima kasih juga… E2,” ia tersenyum tipis, menyebut momen jembatan tanpa menyebut “jembatan”. Keduanya paham.
Hening kembali. Lalu Hendro bersuara, lebih pelan. “Aku benci kolam tadi. Bukan karena ketinggian, bukan karena licin. Karena itu pelan.” Ia menelan. “Pelan itu lebih menyakitkan.”
Anya menatap lantai tanah. “Vino suka bercanda karena… pelan juga. Supaya yang sakitnya pelan, jadi tidak terasa.” Ia terkejut mendengar kalimatnya matang begitu; seakan suara di dadanya menemukan jalannya sendiri.
Hendro berdeham kecil. “Aku pernah ingat, dia cerita soal kerja sambilan. Katanya, ‘kalau di dapur, ketakutan paling besar cuma minyak panas. Setidaknya itu jujur—kalau kena, langsung sakit. Nggak kayak… hal-hal lain.’” Hendro berhenti. “Aku nggak tertawa waktu itu. Dia juga tidak menunggu tawa.”
Anya menggenggam ujung lengan jaket, menahannya agar tangan tidak gemetar. Malam merayap masuk lebih cepat hari itu; seperti kamp ingin menutup mata. Penjaga-penjaga bercat tidak melakukan parade; mereka berganti giliran diam. Angin melewati sela bambu, membawa sisa bau logam dari kolam.
Di sisi lain kandang, Yolanda meringkuk, lutut memeluk dada, wajah disembunyikan. Helen duduk menyandar, leher ditengadah, menatap anyaman atap yang tidak memberikan apa-apa selain garis-garis. Jo akhirnya berhenti berjalan. Ia duduk, menekuk lutut, menekap mata dengan lengan. Bahunya naik-turun—bukan menangis, tapi sesuatu yang tidak ingin diberi nama.
Yosi masih memilih pojokan yang sama. Kacamata melorot sedikit—ia dorong naik. Sesekali ia menatap Anya dan Hendro dari jauh—bukan iri, bukan ingin—hanya memastikan manusia lain masih berbicara. Ketika Jo menoleh, tatapan mereka bertemu setitik. Jo mengalihkan pandang, meletakkan kalimat di lidahnya lalu menelannya kembali. Hari itu, mulutnya tidak punya tenaga untuk menyakiti lebih banyak dari yang sudah terjadi.
Ketika kandang mulai dingin, Hendro memecah hening dengan kalimat yang tidak ia rencanakan. “Aku dulu hampir dikeluarkan sekolah,” katanya lirih. “Bukan karena berantem. Karena kabur dari rumah.”
Anya menoleh pelan, memberi ruang. Hendro tidak memandang balik; ia menatap tanah. “Ayahku… bukan orang jahat. Cuma keras. Terlalu rapi. Hidupnya garis lurus. Aku… bentuknya bukan garis.” Bibirnya menegang. “Waktu itu aku pergi semalaman. Paginya baru pulang. Dia tidak marah. Dia hanya duduk di meja makan, bilang, ‘kalau kamu mau keluar lagi, bilang jam berapa pulang.’ Itu… lebih membuatku marah.”
“Kenapa?” bisik Anya.
“Karena dia benar.” Hendro menghela napas. “Aku tidak butuh dibentak. Aku butuh diingatkan bahwa pulang adalah pilihan.”
Anya menelan ludah. “Pulang,” ulangnya, seperti mengeja kata yang sulit. “Di sini… kata itu terdengar aneh.” Ia memandang sekeliling—bambu, tanah, bayangan. “Tapi aku ingin kita tetap memilikinya. Walaupun cuma di kepala.”
Hendro menunduk, tersenyum hambar. “Kamu menyimpan kata dengan rapi.” Ia menoleh sebentar. “Terus simpan.”
Anya menatap telapak tangan—garis halus yang tadi disentuh Helen di labirin meninggalkan bekas samar. Ia menggeseknya; tidak hilang. “Kita semua punya bekas baru,” katanya pada dirinya sendiri. “Yang lama akan cemburu.”
Mereka diam lagi, tapi keheningan kali ini berbeda: tidak hampa, melainkan seperti kompres dingin di dahi demam—tidak menyembuhkan, tapi membantu bertahan malam ini.
Di luar, jauh, sekali saja, gong dipukul—nada panjang yang menggelinding sampai pinggir kandang, lalu pecah jadi angin. Penjaga menutup obor satu per satu. Gelap merapat seperti selimut kasar. Anya memiringkan kepala, mendengar jantungnya yang akhirnya melambat. Di samping, Hendro menurunkan dagu ke dada, tertidur setengah—tidur yang tidak memimpikan apa pun, karena hari sudah terlalu penuh.
Marga menatap mereka dari jarak seukuran telapak tangan, sudut bibirnya bergerak hampir tak terlihat. Ia bersandar ke jeruji, memejamkan mata, dan menyusun ulang peta di kepalanya: arah ke tempat air, waktu pergantian jaga, panjang langkah penjaga besar. Di sela angka-angka yang belum bulat, ada satu kalimat yang ia simpan untuk besok—kalimat yang tidak minta jawaban: Kita teruskan, satu-satu.
Di tempat lain, Jo membuka mata di gelap, memanggil nama Vino sekali—tidak keras, tidak untuk didengar orang—lalu menutupnya kembali. Hening menelan sisa hari.
Kolam merah di kejauhan mungkin masih bergerak, tapi mereka tidak melihatnya. Mereka hanya merasakan sesuatu tertinggal di dada: berat, dingin, dan menuntut. Besok akan menagih lagi. Dan mereka, entah bagaimana, harus menyiapkan jawaban.
Selesai membaca Episode 4: Kolam Merah