Font: Medium

Navigasi Episode

Perjalanan Terakhir Cover

Perjalanan Terakhir

Episode Saat Ini:
#5 - Kotak Merah
Episode 5

Perjalanan Terakhir

Kotak Merah

Ringkasan Episode

Di pondok tertutup, “Kotak Merah” memaksa tiap siswa menekan tombol yang memutar jeritan-suara orang terdekat; pita merah di pergelangan jadi tanda “yang terpilih”. Koridor-koridor kecil dengan tombol kedua meracik rasa bersalah jadi mekanik: lampu hijau untuk beberapa, gas tipis untuk Yolanda yang pingsan dan diseret entah ke mana. Permainan menyadari: cara paling kejam adalah ilusi pilihan.

Pagi merambat masuk lewat sela atap bambu, membawa cahaya pucat yang tidak menghangatkan apa pun. Di kandang, mereka bangun dengan tubuh yang terasa lebih berat dari kemarin—bukan karena lelah semata, tapi karena ada ruang kosong baru yang harus dibawa: ruang milik Vino.

Anya duduk menatap jemarinya. Bekas merah halus dari cairan kolam masih tersisa di lipatan kuku. Marga duduk di samping, mengikat rambut dengan karet yang mulai longgar, rautnya fokus seperti orang yang sedang menyusun daftar belanja di kepala: air, jalan, ritme penjaga, celah pagar. Jo bersandar pada jeruji, membalik-balik telapak tangan yang sudah mengeras oleh luka; setiap garis seperti kalimat yang tidak selesai. Hendro menghitung sesuatu tanpa suara—jumlah penjaga pagi ini tidak sama dengan semalam.

Yolanda menarik resleting jaket sampai menutup leher. Matanya bengkak, tapi kering. Ada jenis tangis yang habis di tempat lain, dan hanya sisa gersangnya dibawa ke sini. Helen memperhatikan ujung kain di tiang—ada yang diganti malam tadi—lalu menunduk lagi, menyimpan informasi itu entah di mana.

Pintu kandang dibuka. Tanpa drum. Hanya isyarat tangan: bangkit, berbaris, ikut. Mereka digiring melewati jalur sempit yang belum dipakai sebelumnya. Kabut pagi lebih tipis, tapi bau tanah basah lebih pekat. Di ujung, sebuah pondok rendah menunggu—tak seperti pondok lain; pintunya dari kayu gelap, ada cat merah mengalir membentuk angka yang tidak bisa mereka baca.

Di dalam, udara lebih dingin, sejuk yang dibuat-buat. Dindingnya bambu rapat, tidak ada celah. Lantainya bukan tanah, melainkan papan tua yang memantulkan bunyi langkah. Di tengah ruangan berdiri kotak setinggi dada orang dewasa, terbuat dari kayu berat yang dicat merah—merah berbeda dari kolam, merah yang tampak kering dan mengilap. Di atasnya: tombol bulat juga merah, sebesar telapak tangan, mengkilap seperti permen keras.

Di sisi berlawanan, ada dinding lain—gelap, tanpa ornamen. Di atas dinding itu, menggantung sejenis pengeras suara kayu yang diikat tali rotan. Anya menelan ludah. Suara apa pun yang keluar dari sana pasti terasa terlalu dekat.

Seorang penjaga bertato mengetuk sisi kotak dua kali, lalu menepuk tombol dengan ujung jarinya tanpa menekannya—sekadar menunjukkan. Ia menunjuk mereka satu-satu, menirukan gerak menyentuh. Di mata mereka, isyarat itu sederhana: tekan. Setelah itu? Tidak ada penjelasan.

“Ini permainan,” bisik Hendro. Kalimat itu terdengar hina. “Mereka mau lihat kita—” Ia berhenti. Kadang kata-kata terlalu tajam untuk diucapkan.

“Giliran,” kata Jo pendek, menantang siapa pun untuk menyuruhnya diam. Tapi sebelum ia maju, seorang penjaga mendorong Anya. Hampir membuatnya tersandung.

“Anya,” panggil Marga pelan.

“Aku bisa,” jawab Anya, walau suaranya tidak yakin. Ia mendekat ke kotak. Kayu menguar bau minyak dan sesuatu yang dulu, seperti lembar buku perpustakaan. Tombolnya dingin di atas udara. Anya meletakkan telapak tangan—kulitnya seperti bertemu kaca. Ia menutup mata sebentar. Lalu menekan.

Klik.

Cahaya di tepi kotak menyala merah. Tiga detik pertama tidak terjadi apa-apa. Kemudian dari pengeras kayu di dinding, meledak suara jeritan. Bukan jeritan acak—jeritan yang mereka kenal. Jo mengangkat kepala, kaget. Itu… suara Arya. Diikuti suara lain, berlapis-lapis: Tansil memanggil-manggil Bro!, Bimo meracau, Vino tertawa putus asa yang berubah jadi parau—suara-suara yang memukul dada dari dalam.

Anya mematung. Kulit di tengkuknya merinding. “Ini—” suaranya patah.

“Suara rekaman,” kata Helen pelan. “Mereka ingin kita… percaya sesuatu.” Ia tidak mengucapkan “mati”, tidak mengucapkan “hidup”. Kata-kata seperti itu terlalu sombong untuk hari ini.

Dari kotak muncul sebuah laci kecil, mendorong dirinya dari sisi kanan. Di dalamnya ada pita kain merah sempit. Sulit memahami fungsinya, sampai seorang penjaga merengut, menyambar pita itu, lalu mengikat pergelangan Anya dengan cepat—ketat, tapi tidak menyakitkan. Satu simpul. Satu tanda.

Anya menahan napas. Marga selangkah maju tanpa sadar, lalu menahan diri.

Giliran berikut—penjaga menunjuk Jo. Jo mendekat seperti orang mendekati hewan liar, bukan karena takut pada hewan itu, melainkan takut pada bagian dirinya yang suka menantang. Telapak tangannya menekan tombol. Klik. Suara dari pengeras meletus lagi. Kali ini jerit seorang perempuan—Yolanda menangis, menyebut nama ibunya, memohon. Yolanda menjerit beneran; tangannya refleks menutup telinga. Rekaman itu menyambung menjadi tawa laki-laki yang asing, lalu bunyi besi diseret.

Jo mendesis, wajahnya memerah oleh sesuatu yang tidak punya bentuk. Laci terbuka lagi, melontarkan pita merah. Penjaga mengikat pergelangan Jo. Simpul ketat.

“Giliran,” suara Hendro kering. Ia menoleh ke belakang, sekilas, ke Anya. Ada percakapan satu detik di mata itu: aku di sini. Hendro menekan tombol. Klik. Suara lain meledak: teriakan pendek lalu hening panjang yang lebih berbahaya. Hendro tidak berkedip. Laci: pita. Simpul di pergelangan.

Semua bergantian. Marga menekan tombol. Klik. Dari pengeras keluar… diam. Tak ada suara. Hanya dengung halus seperti listrik. Justru itu yang membuat lutut Marga terasa hampa. Otak manusia menyukai pola; diam yang dibuat-buat adalah pola yang paling jahat. Laci menganga, pita merah melompat, melilit pergelangan Marga. Simpul.

Lalu Helen. Klik. Pengeras memuntahkan suara orang dewasa—laki-laki—menyebut nama seseorang dengan nada menghakimi, cepat, dingin. Bukan suara yang mereka kenal, tapi cara menyebutnya membuat udara mengerut. Helen menatap lurus ke dinding, sendi rahang mengencang. Ia tidak menanyakan siapa pun tentang suara itu. Laci: pita. Simpul. Tangannya halus, tapi warna merah membuatnya tampak lebih tajam.

Yosi mendorong kacamatanya yang melorot, menatap tombol seperti menatap ujian yang tidak dipelajarinya. Klik. Suara dari pengeras… tawa anak-anak kecil. Riuh, ringan, lalu berhenti tiba-tiba. Yosi memejamkan mata sepersekian. Laci. Pita. Simpul.

Kini tinggal Yolanda yang belum. Ia mundur satu langkah, kepala menggeleng cepat. “Aku… jangan aku… jangan aku… aku nggak mau dengar apa pun,” bisiknya, suaranya pecah.

“Kalau kamu tidak tekan, mereka akan tekan kamu,” kata Helen tanpa intonasi. “Dan itu lebih buruk.” Yolanda menatapnya—benci, takut, bersyukur sekaligus.

Yolanda merangkak maju dengan kaki yang berat. Tangannya dingin ketika menyentuh tombol. Klik.

Suara yang keluar dari pengeras bukan jeritan, bukan tawa. Doa. Suara perempuan dewasa membaca doa singkat dengan terbata. Yolanda membeku. Bibirnya bergerak mengikuti kata-kata itu, pelafalan yang hanya bisa datang dari rumah. Dalam sekejap, kobaran marah di matanya padam berganti benda rapuh yang lebih tua dari umurnya. Laci mengeluarkan pita. Penjaga menarik pergelangannya—Yolanda menariknya balik, keras.

“Jangan sentuh aku!” Teriaknya memantul. Penjaga itu menggeram, tapi tidak memukul. Helen mengambil pita dari laci dengan cepat. “Aku,” katanya, menatap penjaga. Ia mengikat pergelangan Yolanda sendiri—simpul cepat, rapi. Yolanda tidak mengucap terima kasih; mulutnya lebih sibuk menahan suara.

Kotak menyala redup. Dinding di seberang—yang semula gelap—membelah ke kiri-kanan. Di baliknya: koridor sempit dengan lampu minyak setiap beberapa meter. Udara di sana lebih dingin, seperti lemari es yang lupa ditutup.

Penjaga menunjuk ke dalam, lalu ke pergelangan mereka yang bertanda merah, membuat isyarat “pilih” dengan dua jari. Mereka saling pandang. Tidak ada yang mengerti utuh. Hanya satu kalimat mengendap di kepala: ini tes.

Hendro mengambil langkah pertama. “Kita masuk bareng,” katanya. “Kalau ada apa-apa, mundur. Jangan pahlawan.”

“Andaikan pahlawan bisa dipilih,” gumam Jo, tapi ia mengikuti.

Koridor memanjang. Di kanan-kiri, pintu kayu kecil berjajar rapat. Di atas setiap pintu ada lubang bundar seukuran mata. Anya merinding—benda yang bisa melihat tidak seharusnya berbentuk seperti itu. Di depan pintu pertama, ada papan tipis dengan tulisan yang mereka tidak kenali, tetapi di bawahnya ada gambar sederhana: pita merah. Sama seperti di pergelangan mereka. Seolah-olah seseorang ingin memastikan anak kecil pun mengerti.

“Ini untuk kita,” kata Marga pelan. “Untuk yang bertanda.” Ia menoleh ke Anya. “Kalau ini jebakan—”

“Semua di sini jebakan,” potong Jo. “Pertanyaannya: jahatnya jenis apa.”

Hendro mendorong pintu pertama. Di dalam, ruangan kecil, kosong kecuali satu bangku kayu menghadap dinding. Di dinding ada… tombol merah kedua, lebih kecil, dengan tulisan samar di atasnya. Di bawah tombol, pengeras kayu lain.

“Ini konyol,” desis Jo. “Tombol di luar belum cukup?”

“Kalau kamu bosan, selalu ada kolam,” sahut Helen, tanpa melihatnya. Ia membaca tulisan samar di atas tombol, mencoba menebak bahasa lewat pola huruf—sia-sia. “Mungkin ini tes atas tes.”

Hendro berdiri di ambang. “Kita coba satu dulu. Aku.” Ia menatap mereka, memastikan ada yang siap menariknya kalau apa pun terjadi. Anya mengangguk.

Hendro masuk. Menekan. Klik.

Pengeras langsung hidup. Jeritan laki-laki—pendek, ditekan—lalu suara seperti kain diseret. Hendro berdiri tegak, wajahnya tidak berubah. Di luar ruangan, jantung Anya membentur tulang. Marga merapatkan bibir. Jo mengepalkan tangan, menunggu sesuatu yang bisa dipukul.

Lampu kecil di langit-langit ruangan menyala hijau—sekilas. Lalu padam. Pintu membuka sendiri. Hendro keluar, bahunya turun sedikit, seolah-olah ruangan itu telah mencuri satu lapis keberaniannya. “Aman,” katanya. “Untuk sekarang.”

Satu per satu mereka mencoba ruang-ruang kecil itu. Di tiap ruang, tombol, suara, lampu hijau sesaat—seolah-olah ruangan itu meminta persembahan kecil yang tidak bisa mereka lihat. Di ruangan Anya, suara yang keluar adalah isak seorang anak memanggil ibunya. Anya menggigit bibir, menekan tombol lebih keras dari perlu, menunggu lampu hijau, menolak menoleh ke siapa pun ketika keluar.

Di ruang Marga, tidak ada suara—lagi-lagi diam—dan lampu hijau begitu cepat sampai rasanya seolah-olah ruangan itu mengejek. Di ruang Helen, terdengar suara langkah pria yang mendekat lalu menjauh; Helen keluar dengan wajah seperti batu yang dipoles.

Giliran Yolanda.

Ia berdiri di ambang pintu, kakinya tidak mau mematuhi kepala. “Aku nggak masuk,” katanya. “Aku… aku nggak tahan suara.”

“Kalau kamu tidak masuk, mereka yang masuk,” ulang Helen, sabar tapi keras. “Dan mereka tidak peduli mana yang lebih sakit.”

Yolanda menghela napas, matanya merah. Ia melangkah. Ruangannya lebih dingin. Tombolnya lebih mengkilap. Ia menekan.

Klik.

Suara dari pengeras tidak meledak. Ia berbisik. Suara perempuan dewasa—yang tadi berdoa—kali ini mengucapkan nama lengkap Yolanda, pelan, berulang, antara sayang dan takut. Yolanda menutup mulut, bahunya naik. “Mama,” katanya nyaris tanpa suara. “Mama…”

Lampu hijau tidak segera menyala. Yolanda tersedak udara, mundur setengah langkah, tangannya mencari dinding, tidak menemukannya. “Kenapa…” napasnya patah. “Nyala dong… nyala…”

Lampu hijau padam sama sekali.

Dari langit-langit ruangan keluar asap tipis—bukan banyak, tapi cukup membuat kepala ringan. Yolanda tersentak, mencoba menjerit, tapi suaranya dipotong batuk. “Tolong!” Ia melangkah ke ambang—lututnya menyerah. Hendro menjulurkan tangan, terlalu jauh. Anya menyambar pergelangan Yolanda—dingin, licin. Jo menahan pundaknya. Yolanda pingsan dalam satu gerak yang terlalu elegan untuk situasi ini.

Penjaga dalam sekejap sudah di sana. Dua orang masuk, cekatan, mengangkat Yolanda seperti orang yang tahu cara mengangkat beban yang tidak boleh dilukai. Helen maju selangkah. “Pelan,” katanya terkendali. Penjaga menoleh, menatapnya lama—penuh ancaman yang bosan—lalu mengeluarkan Yolanda lewat pintu lain yang tidak mereka lihat sebelumnya: panel di belakang ruangan yang tadi terlihat seperti dinding padat.

“Apa-apaan,” desis Jo, marah kepada segala hal. “Kenapa lampu—”

“Rusak,” Hendro menelan kata itu, tidak percaya pada kerapuhan sebagai jawaban, tapi tidak punya jawaban lain. “Atau… memang begitu.”

Anya memegang erat ujung resleting jaket, mencoba mengendalikan gemetar. “Yolanda dia… dia—” ia tidak menyelesaikan.

“Dia pingsan,” kata Helen datar. “Dan mereka membawanya ke tempat lain. Bisa kembali, bisa tidak.” Ia menatap kotak di ruangan luar. “Tempat ini didesain untuk menyentuh hal yang tidak kita punya bahasa: rasa bersalah, ilusi pilihan.” Ia baru sadar nadanya terlalu jelas, lalu menurunkan suara. “Kita keluar.”

Mereka digiring lagi ke koridor awal, lalu ke luar. Matahari sudah tinggi, tapi warna hari tidak berubah—seperti filter abu-abu yang keras kepala. Kandang menerima mereka kembali. Pita merah masih melingkari pergelangan; simpulnya menghina.

Jo duduk dengan kedua siku di lutut, menatap lantai. “Semua tombol itu untuk apa? Buat apa? Kalau ujungnya tetap—” ia tidak melanjutkan. Kata “hilang” terlalu tajam.

Hendro bersandar di jeruji, napasnya panjang. “Mungkin ini cara mereka memecah kita. Biar waktu ada kesempatan, kita tidak lagi menjadi ‘kita’.”

Anya menatap pita merahnya. Ia mencobanya—tidak mudah dibuka, tapi bisa jika sabar. Ia tidak membukanya. “Kalau menyakiti orang adalah permainan,” katanya pelan, hampir kepada dirinya sendiri, “mereka pemain paling jago.”

Marga menatap simpulnya. “Kita bisa belajar aturan,” ujarnya. “Aturannya: selalu ada bagian yang tidak adil. Dan kita… tetap harus memutuskan.”

Helen mengamati tangan mereka satu per satu. “Simpan pitanya,” katanya singkat. “Apa pun yang membuat mereka berpikir kita patuh, kita simpan. Kita butuh ruang bernapas.”

Mereka diam lama. Di sudut, panel lantai—yang mungkin pintu rahasia—dihentakkan angin, mengeluarkan bunyi tak kecil yang sulit dibedakan dari imajinasi. Anya memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya sejak kamp ini, ia berdoa tanpa kata: bukan untuk keselamatan, bukan untuk keadilan—untuk kesempatan. Satu saja, kecil, yang bisa mereka sembunyikan di kantong dan dipakai di waktu yang tidak diberitahu.

Di luar, gong dipukul sekali—dalam, lama—seakan mengikat simpul lain yang tidak terlihat di pergelangan hari.

Selesai membaca Episode 5: Kotak Merah

Perjalanan Terakhir