Font: Medium

Navigasi Episode

Perjalanan Terakhir Cover

Perjalanan Terakhir

Episode Saat Ini:
#3 - Labirin Bambu
Episode 3

Perjalanan Terakhir

Labirin Bambu

Ringkasan Episode

Siswa dipaksa memasuki labirin bambu penuh jebakan optik, suara-suara tiruan, dan lorong yang berputar balik. Di dalam histeria dan saling tuding, Tansil serta Bimo “lenyap” dari pandangan—seolah dimakan dinding. Di luar, dinamika kelas yang lama meledak: ejekan pada Yosi tetap terjadi bahkan di tengah genting, sementara Helen mulai menunjukkan ketenangan manipulatifnya ketika menukar rasa takut menjadi arah.

Pagi merangkak tanpa niat. Kabut tidak pergi, hanya bergerak lebih tinggi, seperti tirai yang ditarik setengah hati. Anak-anak duduk menekuri tanah di dalam kandang; mata bengkak oleh malam sebelumnya. Tidak ada yang bicara soal Arya. Nama itu diam-diam disimpan di belakang lidah, takut jika disebut, jurang akan mendengar dan meminta lagi.

Hendro berdiri duluan. Ia mengetuk-ngetuk bambu dengan buku jarinya, bukan untuk memanggil siapa pun, melainkan agar tangannya mengingat rasanya bergerak, bukan gemetar. “Kalau ada aba-aba, baris seperti kemarin. Tengah jangan nyalip depan.” Suaranya datar, tetapi ada sesuatu yang bisa diandalkan di dalamnya.

Jo tidak menimpali. Ia duduk menunduk, memelototi telapak tangannya yang lecet. Tansil di dekatnya berkali-kali menekan bibir agar tidak bergetar. Vino menyentuh bahu Tansil sebentar: singkat, tanpa komentar, lalu menarik tangannya lagi. Gerak kecil yang bilang aku lihat kamu, karena kadang itu saja cukup untuk bertahan satu menit lagi.

Anya mengikat ulang rambutnya, meminjam karet dari kantong hoodie Marga. “Makasih,” katanya pelan. Marga hanya mengangguk, menatap ke luar lewat celah bambu. Tatapannya tidak kosong; ia sedang menghitung sesuatu yang tidak ada angka—arah angin, letak obor, ritme langkah penjaga—hal-hal kecil yang bisa menyusun peta kasar di kepala.

Yolanda masih mengenakan jaket yang kemarin dipinjamkan Helen. Wajahnya pucat, tetapi matanya berhenti berkaca-kaca. Ada lelah jenis baru yang membuat tangis tidak punya tenaga. Helen duduk lurus, punggungnya menempel ke jeruji, jemarinya mengusap serpih arang di lengan, menghapusnya satu-satu seperti noda yang bisa dia kendalikan.

Yosi di pojok, kacamata duduk benar di batang hidung. Ia menggambar garis pendek-pendek di tanah dengan ranting, membuat belokan kecil, kemudian menyilangnya. “Apa itu?” tanya Vino, tak benar-benar ingin tahu. “Ngitung peluang selamat?”

Yosi mengangkat bahu, tidak menatap. Jo mendesis, “Kalau pintar itu berguna, Arya nggak jatuh.” Kalimat itu melesak seperti paku. Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang bisa.

Pintu kandang digeret. Dua lelaki bercat mengacungkan tombak, menggerakkan dagu. Baris. Jalan. Kabut menelan suara langkah, menahan bau tanah basah. Mereka digiring menyusuri lorong-lorong bambu tinggi yang saling berdesak, seperti gang tua di kota yang lupa dilihat matahari. Di beberapa titik ada kain merah diikat longgar—tanda? hiasan? ancaman yang bersiul pelan?

Mereka sampai di tanah lapang sempit. Di kiri-kanan, dinding bambu menjulang, membentuk pintu masuk ke sebuah lorong selebar dua orang. Di atas, tali-tali rotan membentang berantakan seperti sarang laba-laba raksasa. Drum tidak berbunyi. Yang ada hanya gong—sekali, berat—seperti besi tua dipukul. Ekor suara itu merayap masuk ke dada, membuat napas ingin memperlambat sendiri.

Pria bercat yang sama mengangkat telapak tangan: Masuk. Jari-jarinya kemudian bergerak ke bawah, berurut: satu per satu kelompok kecil. Ia menunjuk Hendro, lalu ke lorong. Ia menunjuk perutnya sendiri dan membuat gerakan melingkar—tak ada yang mengerti, tapi semua paham: di dalam sana, ada sesuatu.

“Bentuk zigzag,” bisik Hendro. “Satu baris, jarak satu lengan.” Ia memandang cepat wajah-wajah itu. “Kalau ketemu pilihan, tunggu aku.”

Mereka melangkah memasuki mulut lorong. Bambunya tua, beberapa sendi retak, beberapa seratnya menonjol seperti serpih tulang. Cahaya obor dari luar menipis; di dalam lebih dingin, lebih lembap. Aroma bambu basah bercampur tanah, diselingi sesekali oleh wangi asing—seperti bau minyak, disembunyikan di balik kelembapan.

Langkah pertama tak terjadi apa-apa. Langkah kedua menimbulkan bunyi kering kecil di lantai—rencak bambu yang diletakkan melintang, bukan rapat. Marga mengukur jarak antar rencak dengan pandangan; keteraturan anehnya membuatnya curiga. “Hati-hati injak garis,” bisiknya ke Anya. Anya mengangguk dan menyesuaikan ritme.

Di belokan pertama, lorong bercabang tiga. Kiri tampak lebih terang—entah karena betul-betul ada cahaya, entah karena mata ingin begitu. Kanan lebih gelap, dekat dinding; lurus ke depan sempit, nyaris menutup. Hendro berdiri, mengangkat telapak tangan: stop. Ia menunduk, menyentuh lantai. Beberapa rencak sedikit lebih longgar. “Kiri,” katanya pelan. “Kelihatan aman.”

Helen menekan bahu Hendro dengan dua jari. “Kalau terang, belum tentu aman.” Ia menunjuk sudut atas: di sana tergantung gulungan tali kecil nyaris tak terlihat. “Kalau aku ingin mengarahkan orang, aku taruh cahaya di jalan yang salah.”

“Kalau kamu ingin membuat kami diam, kamu bicara lebih pelan,” balas Hendro tanpa menatap. Tapi ia melirik ke atas, melihat tali itu juga. Ia mengubah keputusan: “Kanan.”

“Kenapa?” desis Jo, tak sabar.

“Karena aku benci hal yang terlalu mudah,” jawab Hendro. Itu terdengar seperti sombong di telinga yang lelah. Tapi mereka mengikuti juga. Kanan.

Lorong menyempit. Bambu di kiri-kana lebih dekat, menyisakan ruang satu orang. Di satu titik, suara krrtt samar terdengar dari dinding, seperti ada sesuatu bergeser di baliknya. Vino berhenti di belakang Anya. “Kamu dengar?”

“Dindingnya hidup,” gumam Anya. Kalimat itu keluar begitu saja, dan seluruh kulitnya merinding seketika karena bunyi itu memang terasa seperti napas.

Gong dipukul lagi—dua kali, cepat. Hendro memberi aba-aba untuk mempercepat langkah. Mereka bergerak dalam barisan—Hendro, Jo, Anya, Marga, Vino, Helen, Bimo, Tansil, Yosi, dan sisa yang lain. Yolanda tidak ada; gambar wajahnya muncul sebentar di kepala Anya—menangis di ruang tombol merah—lalu pergi lagi. Otak mengatur beban sendiri.

Belokan lain. Kali ini, di depan ada pintu bambu setengah terbuka. Hendro mengangkat tangan: stop. Ia menyelinap, mengintip celah. “Kosong,” katanya. Nafas semua keluar setengah.

“Jangan,” Helen tiba-tiba. Ia menunjuk lantai tepat sebelum pintu: ada serpihan kecil yang tampak seperti serbuk kayu baru. “Kalau pintu sering dipakai, bekas pijakan tidak baru,” katanya tenang. “Ini baru.”

“Pintunya baru dibuka orang,” bantah Jo. “Yang penting kita keluar.”

“Kalau kau suka berjudi, silakan,” katanya. “Aku pilih jalan lain.”

Hendro menatap dua orang itu, timbang-menimbang, lalu memutuskan sesuatu yang membuat Jo mendengus: “Kita cari jalur alternatif.”

Mereka belok ke lorong sempit di sisi pintu. Dua langkah. Di sebelah kanan, dinding bambu bergoyang—pelan, seperti bahu yang menarik napas. Mata Marga menajam. “Jarak antar simpul bambu di sini beda,” bisiknya. “Seolah-olah diganti baru satu meter ke depan.”

“Kalau dinding bisa dibuka, itu buat ap—”

Sebelum pertanyaan Jo beres, dinding di sisi kanan meluncur terbuka seperti laci raksasa. Tangan-tangan gelap menerjang keluar, menarik Tansil dari barisan. Semua orang jerit—kaget, bukan ramai—dan berusaha meraih kembali. Jo menghantam dinding dengan bahu. Hendro mencengkeram lengan Tansil, Anya meraih kaosnya, tapi untuk sepersekian detik terlalu mudah dan terlalu licin. Dalam tiga tarikan, Tansil lenyap ke balik dinding, pintu bambu kembali menutup dengan bunyi thak yang terdengar seperti titik akhir kalimat.

“Tan—!” suara Jo pecah menjadi sesuatu yang bukan huruf. Ia menghajar dinding keras, bambu memantulkan rasa sakit ke tulangnya. Hendro menariknya mundur. “Jangan asal! Kita nggak tahu pintu itu buka dari mana!”

“LEPASKAN AKU!” Jo membentak. “Dia diambil di depan mata kita!”

“Kamu mau diambil bareng?” Hendro mendesis, tapi matanya basah—amarah yang punya saudara: takut.

Gong dari kejauhan menjawab dengan pukulan panjang, seakan mengundang. Nafas mereka berisik, menjadi bagian dari musik yang tidak enak didengar.

Bimo berdiri mematung, wajahnya antara pucat dan kosong. “Tadi aku di belakangnya,” katanya hampir tanpa suara. “Aku pegang ranselnya sebentar… terus…” Ia menatap tangannya, seperti menyalahkan kulitnya sendiri karena tidak lengket.

“Lanjut,” kata Hendro, suaranya berubah serak. “Kalau kita berhenti, dinding makan kita semua.”

Mereka berjalan lagi. Lorong-lorong berikutnya makin mirip—bambu, simpul, garis, belokan—seperti mimpi yang melukis ulang ruangan dengan selisih kecil agar yang berjalan tetap salah. Marga mulai menandai pola di kepalanya: setiap tiga belokan, gong; setiap lima puluh langkah, ada belahan bambu lebih baru; setiap… ia berhenti menghitung, karena suara yang lain hadir: krrtt dari atas.

Anya menatap ke langit-langit lorong. Ada kisi rotan yang tidak rapat. “Jangan jalan di bawah tali itu,” katanya, refleks, entah darimana keberanian membuatnya menginstruksi. Hendro menoleh, menilai, lalu mengangguk. Mereka menggeser langkah, menempel ke dinding kiri. Lima langkah setelah itu, dari kisi di langit-langit turun jaring tipis yang memukul udara kosong. Vino tertawa pendek—tegang. “Untung kita tidak tinggi.”

“Bukan jaring kita,” gumam Helen, entah pada siapa. “Jaring itu menunggu orang yang lebih cepat.”

Bully datang tanpa aba-aba, karena begitulah caranya: “Profesor, coba hitung lagi jalannya,” kata Jo sinis, menoleh tajam pada Yosi. “Biar kita semua punya harapan palsu.” Tawa hambar dari entah mana. Yosi menunduk makin dalam. Anya ingin berkata sesuatu—bukan membela, hanya menghentikan—tapi lorong berbelok lagi dan suaranya jatuh di tenggorokan.

Di ruang yang sedikit lebih lebar, ada sesuatu di tanah: sobekan kecil kain olahraga. Biru. Mata Tansil. Bimo memungutnya, jarinya gemetar. Ia menatap Helen sejenak—mencari keputusan di wajah yang selalu tampak punya jawaban. Helen menatap balik tanpa air, ekspresinya bersih dari kasih sayang maupun kebencian. “Kalau itu membuatmu bisa jalan lagi, simpan,” katanya. “Kalau membuatmu berhenti, buang.”

Bimo memasukkan sobekan ke saku.

Gong lagi. Pukulan kali ini lebih dekat. Hendro memberi tanda isyarat dengan kedua jarinya—diam, dengar. Dari balik dinding, ada langkah. Bukan langkah telanjang; bunyinya berat, memakai sesuatu. Jo merunduk, menyiapkan tubuh seperti bola baja. Hendro memegang pundaknya. “Belum.”

Tiba-tiba, lorong di depan berubah arah dengan cara yang tidak masuk akal: dinding bambu kanan bergeser ke dalam, membuka sebuah jalan menyilang; dinding kiri maju, menutup yang lurus. Marga mengumpat sangat pelan—hampir seperti berdoa—karena semua peta di kepalanya harus menyesuaikan. “Ke kanan,” katanya sebelum Hendro bicara. “Kalau lurus, kita dibawa kembali ke awal.”

“Kamu yakin?” tanya Hendro.

“Tidak,” jawab Marga, jujur. “Tapi satu-satunya alasan dinding bergerak adalah agar kita ragu. Jadi kita pilih yang baru, sebelum kita keburu takut.”

Mereka belok kanan. Lima langkah. Dinding di belakang menutup—bunyi thuk yang membuat punggung dingin. Lantai di depan menurun sedikit. Ada udara lain—lebih basah, seperti dekat air yang ditahan.

“Dengar,” kata Vino. Mereka berhenti. Jauh, terdengar tetes air—tik… tik…—ritmenya tidak konsisten. “Kalau ada air, biasanya ada keluar,” katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

“Terkadang ada masuk,” sahut Helen. “Air suka mengundang kita ke tempat lebih rendah, dan di tempat lebih rendah, udara habis duluan.”

“Kenapa kamu selalu—” Jo hendak menyambar, tapi suaranya mati ketika dinding di kiri mereka hsss membuka celah kecil. Di baliknya: gelap pekat, dan bau yang membuat kepala pusing—seperti campuran bambu, minyak, dan besi.

“Jangan—” kata Hendro.

Bimo langkah setengah, matanya terpaku pada sesuatu yang tidak dilihat orang lain. “Ada… ada suara,” katanya lemah. “Kayak… Arya?” Nama itu akhirnya keluar, dan namanya memanggil balik dari kejauhan di kepalanya sendiri. Ia melangkah satu lagi. “Arya?”

“Bimo!” Anya meraih bahunya. Terlambat setengah detik. Dari celah, tangan—atau sesuatu seperti tangan—menyambar pergelangannya dan menarik. Jo dan Hendro bersamaan menahan, tapi Bimo terbelah antara dua gaya: yang hidup dan yang tak terlihat. “Arya!” ia menjerit lagi, dan dinding menelan suara itu seperti menelan orang.

Marga memukul dinding dengan telapak, mencari struktur. “Ada mekanisme,” gumamnya, nafas cepat. “Ada pengunci. Cari simpul paling baru—”

“Jangan bodoh!” Jo menghantam bambu dengan bahu, dua kali, tiga. Tak bergeser. “Kita tarik!”

“Kalau kamu dorong lebih keras, lorong lain ikut bergerak,” cegah Helen. “Dan kita semua masuk ke perutnya.” Kata “perut” membuat Anya merinding. Lorong ini memang terasa seperti hewan yang perlahan mengunyah mereka.

Hening sesaat. Bahkan gong pun seperti menahan pukulannya. Vino menatap tempat Bimo hilang, bibirnya bergetar. “Dia tadi… dia menyebut nama Arya,” katanya, lebih pada kosong. “Kalau… kalau mereka berdua—” Kalimatnya tidak punya akhir yang bisa ditanggung.

“Gerak,” Hendro memutus. “Gerak sekarang.” Keputusan itu kejam bagi hati, tetapi baik untuk kaki. Ia mendorong barisan. “Kalau kita diam di sini, dinding akan memilih makan siapa.”

Mereka berjalan lagi, atau lebih tepatnya, mundur dalam kepalanya sendiri sambil tubuh maju. Dua orang hilang dalam sepuluh menit, atau mungkin sejam—waktu di sini menolak aritmetika. Lorong memanjang menjadi serangkaian pilihan tanpa nama. Kadang ada kain merah, kadang tidak. Kadang mereka masuk ruang kecil sedingin kulkas, kadang melalui terowongan yang berbau minyak.

Di satu tempat, ada ukiran di bambu: garis melingkar seperti mata. Vino menyentuhnya, cepat menarik tangannya. “Licin,” katanya, kaget. “Seperti baru dioles sesuatu.”

“Jangan sentuh lagi,” Helen. “Apa pun itu, tujuannya agar kita meninggalkan jejak di kulit.” Ia mengangkat tangan Anya, mengusap punggungnya dengan ibu jari. “Lihat? Ada bekas tipis.” Anya baru sadar ada garis keperakan samar di sana. Ia merasa telanjur diawasi bahkan oleh benda mati.

“Kenapa kamu tahu hal-hal seperti itu?” tanya Marga, datar. Bukan curiga, hanya catatan. Helen tidak menjawab; bibirnya sedikit tersenyum, bukan senyum bahagia—senyum orang yang tahu caranya hidup di ruang yang tidak menyukai manusia.

Di belokan keempat setelah ukiran, lorong melebar menjadi semacam bundaran kecil dengan tiga jalan keluar. Hendro berhenti. “Kita istirahat satu menit,” katanya, bukan minta. Lutut semua orang lega karena akhirnya ada izin.

Jo duduk setengah jatuh, punggungnya pada bambu. Ia tidak menangis. Ada orang-orang yang marahnya kering. Tansil tidak ada lagi di sampingnya; Bimo tidak berdiri memegang saku. Dua lubang kosong di barisan.

Anya menatap Marga. Mata mereka berbicara bahasa baru—lebih sedikit kata, lebih banyak jeda. Kita masih di sini, kata jeda itu. Tapi berapa lama? tanya kening yang berkerut. Sampai besok, jawab telapak tangan yang saling menekan sebentar sebelum lepas lagi.

Yosi duduk diam-diam, memegang kacamata agar tidak berembun. Jo meliriknya dan membuka mulut, sesuatu di ujung lidahnya ingin meledak, tapi Hendro berdiri duluan. “Bangun,” katanya. “Satu jalan lagi. Aku bisa cium udara luar.”

“Dari mana?” Vino heran. “Aku cium… bambu dan nasib buruk.”

“Bambu dan nasib buruk,” ulang Hendro, mata lurus. “Tapi campur sedikit tanah yang tidak basi.”

Mereka memilih jalan kanan. Tiga puluh langkah, lalu cahaya benar-benar berubah—tidak lagi pantulan obor, melainkan putih alami yang datang dari celah-celah daun jauh di atas. Kabut masuk seperti tamu, membawa dingin yang lebih akrab. Mereka menembus dinding bambu terakhir—bukan pintu, melainkan rongga yang menolak tapi kalah—dan tiba-tiba dunia terbuka.

Lapangan kecil, tidak jauh dari tempat mereka masuk. Matahari pucat menggantung seperti koin basah, tapi cahayanya cukup untuk menandai garis wajah. Pagar bambu terlihat, kandang bambu terlihat, obor, altar—semua kembali seperti semula, seolah-olah labirin baru saja memuntahkan mereka karena bosan.

Penjaga bercat berdiri berderet, wajah tidak berubah. Gong dipukul sekali—tinggi dan panjang, seperti ucapan selamat datang yang sinis.

“Bimo?” bisik Vino pada udara, seakan panggilan bisa mengikuti lorong-lorong balik. “Tansil?” Tak ada jawaban selain suara bambu yang beradu karena angin.

Jo berjalan lurus ke jeruji kandang, memegangnya terlalu kencang. Hendro berdiri satu langkah di sampingnya. Mereka tidak sepakat dalam banyak hal, tapi ada kesepakatan baru: marah sekarang adalah barang mewah. Yang dibutuhkan adalah napas.

Anya menoleh ke Marga. “Kita keluar,” katanya, hampir kaget mendengar suaranya sendiri. “Kita… keluar.”

“Sebagian,” jawab Marga, dan itu bukan sinis. Itu matematika yang jujur.

Helen lewat di belakang mereka, menyapu pandang cepat ke wajah-wajah penjaga, ke obor, ke tanah yang basah di titik-titik tertentu, ke kayu penyangga di sudut pagar. Pandangannya seperti jarum: halus, menusuk tanpa jejak.

Yosi menyusul masuk kandang paling akhir. Ia menyentuh pipi—ada garis debu yang tertinggal di kulit—dan menggosoknya. Tidak hilang seluruhnya. Jo bersuara, pelan tapi jelas: “Jangan jalan di belakangku lagi.” Tidak ada alasan yang diminta; tidak ada jawaban yang diberikan. Yosi mengangguk saja, seolah mengangguk bisa membuat lorong-lorong tadi meralat pilihannya.

Matahari turun sedikit, kabut berganti tempat. Angin mengayunkan kain merah di salah satu tiang—nyaris tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Anya sadar bahwa benda-benda di kamp itu memiliki ritme. Ritme yang bukan milik mereka.

Di antara jantung yang memaksa tenang, di antara napas yang memilih jalannya sendiri, satu pikiran merayap ke kepala Anya dan tak mau pergi: Labirin itu punya perut. Perut itu lapar. Dan ia belum selesai.

Selesai membaca Episode 3: Labirin Bambu

Perjalanan Terakhir