Tali Langit
Permainan pertama: menyeberangi jembatan gantung rapuh di kabut. Anya menyelamatkan Marga di detik terakhir, menyalakan kembali sisa hangat persahabatan masa kecil mereka lewat potongan flashback. Arya terjun dan “hilang”, sementara di altar perkampungan, Pak Damar “dipersembahkan” dalam ritual pembakaran—tampilan horor yang menegaskan: tidak ada lagi orang dewasa yang mampu menolong.
Kabut pagi itu turun seperti kain basah yang dilemparkan dari langit, menutupi perkampungan hingga obor-obor sisa tadi malam tampak hanya sebagai noda oranye di udara. Tanah becek menempel di telapak kaki, dinginnya seperti gigitan kecil yang tak henti. Di kandang bambu, mereka bangun bukan karena tidur tuntas, melainkan karena tubuh tak sanggup lagi berpura-pura istirahat.
Anya duduk bersandar pada jeruji, meremas ujung jaketnya yang lembap. Sisa darah kering di lengan—entah darah siapa—membentuk garis tipis, dan ia menolak membayangkan asalnya. Di sebelahnya, Marga mengikat ulang tali sepatu. Jemari Marga gemetar sedikit; hanya sedikit. Anya melihatnya dari sudut mata dan tak berkata apa-apa. Ada hal-hal yang, bila diucapkan terlalu cepat, pecah menjadi serpihan yang melukai.
Jo berdiri, punggungnya tegang, kedua tangan menggenggam bambu seakan bisa mematahkannya. “Kita nggak bisa stay. Mereka senang kalau kita diam.” Suaranya pelan, tapi tiap kata terasa tajam. Tansil mengintip dari balik bahu Jo; wajahnya pucat, bibirnya pecah-pecah.
Hendro mengangkat wajah, garis di rahangnya dalam. “Kita lihat mereka mau bawa ke mana. Lari tanpa arah sama aja bunuh diri.” Ia bicara seperti menahan batu di dadanya: berat, terukur, tidak ingin jatuh menimpa orang lain.
Yolanda menatap rok yang belepotan tanah, mencoba mengelapnya dengan tisu yang tinggal selembar. “Kulitku bisa infeksi,” gumamnya, setengah untuk diri sendiri. “Aku bisa kena apa gitu…” Suaranya ditepis angin. Helen, di seberang, merapikan rambut dengan gerak yang nyaris khidmat. “Bernapas dulu,” katanya tanpa menoleh, nada datar yang anehnya menenangkan.
Vino menarik napas panjang, memeriksa botol airnya yang tinggal seperempat. “Kalau kita selamat, aku janji nggak akan bercanda soal apa pun… hmm, kecuali diskon bakso. Itu dosa kalau nggak dibahas.” Sudut bibirnya terangkat, lalu ia mengatupkan mulut. Ada cara ia memelintir rasa takut jadi lelucon tipis—bukan untuk lucu, melainkan sekadar agar jantung ingat cara berdetak.
Di pojok, Yosi menunduk, kacamata berembun. Ia menggambar lingkaran kecil di tanah dengan ujung jarinya, lalu menghapusnya sendiri. Arya berjalan melewatinya dan mendesis, “Jangan melamun. Jalan kaki nanti perlu otak juga, Profesor.” Tawa pendek, basi. Yosi tidak menoleh.
Pintu kandang ditarik. Tali rotan berderit panjang, bunyinya memotong kabut. Mereka digiring keluar berbaris. Orang-orang bercat itu tidak menabuh drum hari ini; langkah telanjang mereka di tanah yang dingin sudah cukup jadi metronom.
Jalan setapak menyelinap di antara bambu dan semak, memanjat pelan. Kabut di sini lebih tebal. Pohon-pohon raksasa berdiri seperti tiang dari dunia lain. Burung tidak berkicau. Hanya ada bunyi jarum jam yang tak terlihat—mungkin jantung mereka sendiri—yang menandai detik-detik yang lewat.
Mereka berhenti di tepi jurang.
Jembatan gantung terbentang di depan, memanjang hingga ujungnya lenyap ditelan kabut: susunan papan kayu tua yang tidak semua utuh, diikat tali besar yang berlumut. Angin dari bawah meniup kabut ke atas dalam gulungan lambat, menyapu wajah anak-anak dengan dingin yang berbau logam.
“Ini…” Vino berbisik, “ini bukan ujian pramuka.” Tidak ada yang menimpali.
Seorang lelaki bercat—yang semalam memimpin tarian—mengangkat tombaknya dan menunjuk ke seberang. Geraknya sederhana, tapi tak memberi ruang tawar. Seberangi. Atau mati di sini. Itu bahasa yang semua orang paham.
“Urutan,” kata Hendro. “Satu-satu. Jaga jarak. Pegang tali.”
Jo melangkah lebih dulu. Papan pertama berbicara—bunyi kreek panjang yang membuat gigi siapa pun ingin saling menggertak. Tali di kiri-kanan bergetar, jembatan berayun pelan. Jo tidak melihat ke bawah; ia menatap jauh ke depan, ke kabut putih yang tak menawarkan apa pun selain kemungkinan.
Arya menyusul, napasnya berat. Tansil mengekor dengan tangan berkeringat, mengusap ke celana, memegang tali lagi. Hendro memberi isyarat ke kelompok tengah. Anya melangkah, Marga di belakangnya. Di belakang mereka, Vino dan Helen; Yolanda terakhir, dipaksa maju oleh dua penjaga yang bosan pada kebekuan.
Anya memegang tali di kiri. Kulit seratnya kasar, menyalurkan dingin ke telapak. Satu papan, lalu papan berikutnya. Ia mencoba menstabilkan napas seperti yang diajarkan guru olahraga dulu: empat hitungan tarik, empat hembus. Tidak berhasil. Dada tetap kencang.
Di belakang, napas Marga terdengar patah-patah. “An,” panggilnya pelan, tak yakin. Anya melirik, hanya sekejap. Mata Marga kaget, seperti anak yang baru sadar ia berada di panggung. “Aku di sini,” kata Anya. Tidak berjanji apa pun; tidak perlu.
Angin naik mendadak. Jembatan menari kecil. Yolanda menjerit. “Aku nggak bisa—aku nggak bisa—” Helen memutar kepala sedikit. “Kalau kamu jatuh, jangan tarik aku,” katanya datar. Itu bukan penghinaan; itu pesan bertahan hidup.
Di depan, papan di bawah Arya memekik lebih nyaring, lalu patah, secepat silet memutus benang. Arya memaki—pendek, putus—dan melompat ke papan berikutnya, tumitnya nyaris luput. “Fokus!” Jo menyalak, tanpa menoleh. “Jangan lari!”
Anya menunduk sesaat. Kabut menebal di bawah; tak ada dasar. Jangan lihat, pikirnya, kamu akan jatuh lewat mata.
Papan di bawah Marga patah.
Semua terjadi dalam hitungan gerak. Suara retak, kaki kehilangan tanah, tubuh merosot. Marga berpegangan pada udara—dan udara menolak. Satu kakinya menemukan pinggir papan utuh, lututnya menghantam tepi, separuh tubuhnya menggantung.
“Anya!” Suara itu bukan teriakan yang ingin didengar orang yang mencintai ketenangan. Itu teriakan orang yang tahu dunia akan berakhir jika tangan yang tepat tidak datang.
Anya berlutut, siku kirinya mengunci tali, tangan kanannya menjerat pergelangan Marga. Jemari mereka bertaut, basah oleh kabut; dinginnya seperti logam yang menempel di kulit. “Lihat aku!” Anya memaksa Marga menatap. “Lihat aku, Marg. Tarik napas.”
Mata Marga liar, mencari tempat untuk takut. Anya mengangguk—gerakan kecil, tapi bulat. “Ingat jambu?” tanyanya.
Kabut di kepala Marga bergeser sedikit. Halaman rumah Anya kala sore, dinding putih yang retak tipis, pohon jambu dengan buah merah macam lampu kecil. Marga kecil memanjat pagar, rok SD berkibar. “Kalau aku jatuh, kamu tangkap,” katanya dulu, sok berani. Anya kecil di bawah, tangan terbuka: “Kalau aku lepas, kamu marah.” Mereka tertawa—tawa yang sekarang terasa seperti selimut yang dilemparkan tepat saat menggigil.
“Aku marah kalau kamu lepas,” kata Marga sekarang, suaranya pecah tapi ada nyala di ujungnya.
Anya menarik. Otot bahu seperti disobek. Papan di bawah lututnya mengadu sakit. Ia memindahkan berat ke pinggul, memanfaatkan elastis tali, menarik sekali lagi—tarikan yang mengundang seluruh kenangan yang ingin diselamatkan. Marga naik satu jengkal. Nafas mereka beradu, hangat di tengah udara dingin. Tarikan kedua, Marga naik lagi; tapak sepatunya menemukan papan. Tarikan ketiga, dorongan kecil dari paha Anya, dan Marga terguling ke atas jembatan, menubruk Anya hingga keduanya telentang.
Jembatan berayun gila. Waktu membentang. Lalu perlahan, seimbang kembali.
Mereka berbaring menatap kabut beberapa detik—detik paling mahal sejauh ini. Marga menutup mata, menahan sesuatu yang ingin pecah, lalu tertawa kecil. Anya ikut tertawa—bukan lucu, tapi terpaksa, karena tubuh perlu alasan untuk tidak meleleh. Mereka saling menatap. Tidak ada pidato. Hanya pandangan yang bilang: terima kasih, aku ingat, kita hidup.
“Jalan!” Hendro dari belakang, suara terkendali. “Jangan berhenti di tengah!”
Mereka bangkit. Anya di depan, Marga setengah langkah di belakang. Kabut menutup lagi, dingin resmi kembali ke pekerjaannya.
Di depan, Arya mempercepat langkah, entah karena panik, entah karena percaya kecepatan adalah jalan keluar. “Arya, pelan!” seru Jo.
Terlambat.
Dua papan depan Arya patah sekaligus, seperti piano tua yang kuncinya lepas. Arya meleset. Tangannya meraih tali—luput. “JO!” Teriakan itu bukan memanggil bantuan; itu memanggil saksi.
Jo melompat, melempar tubuhnya ke depan, tangan terulur. Jari mereka—dua pasang—hampir bertemu. Setengah ruas. Sejarak kuku.
“ARYA!” Jo memekik sampai suaranya jadi sesuatu yang lain, nyaris tanpa huruf.
Arya menghilang ke kabut. Suara jatuhnya tidak ada. Kabut menelan tanpa menyisakan burp.
Tansil membeku, matanya kosong. “Arya…” bibirnya gerak tanpa suara. Jo memukul tali dengan kepalan sampai kulitnya terkelupas. “BANGSAT!” serunya, kepada siapa pun dan apa pun yang berani menjawab.
Seseorang di tepi jurang—salah satu dari manusia bercat—tertawa, pelan pada awalnya, lalu pecah menjadi sorak-sorai yang menempel di kulit seperti debu. Drum membara hidup: dum… dum… dum, bukan cepat, tapi berat, seperti suara hati yang tidak sudi berempati.
Langkah-langkah berikutnya adalah kewajiban. Satu papan, satu napas, satu keputusan untuk tidak melompat ke bawah menyusul teman. Mereka tiba di ujung seberang dengan kaki gemetar. Tanah terasa bodoh di bawah telapak—seolah ia baru saja menolak mereka, lalu pura-pura biasa saja.
Jo menatap balik ke jembatan lama, tatapannya seperti tali yang diikat ke sesuatu yang sudah putus. Hendro menyentuh lengan Jo sebentar—bukan menahan, bukan menenangkan, hanya mengingatkan: kita masih ada.
Mereka digiring kembali ke kamp, melewati pagar bambu yang ditutup dari belakang. Tidak ada upacara hari ini. Tidak ada api besar, tidak ada tarian. Orang-orang bercat berjalan seperti pekerja seusai shift, kembali ke pondok, melepas beban dari pundak tanpa wajah berubah. Seolah kematian bisa menjadi tugas di jadwal.
Kandang menutup lagi. Bunyi kaitnya membuat bulu kuduk berdiri.
Tansil duduk di tanah, menatap telapak tangan kosongnya. “Dia pegang tali…” katanya pelan, seolah jika ia mengucapkannya cukup sering, tali akan merasa bersalah dan mengembalikan apa yang ia ambil. “Dia pegang tali…”
Jo duduk di sudut, punggung ke bambu, lutut terangkat, kepala tertunduk di sela lengan. Darah di buku jarinya sudah mengering, retak saat ia mengepal. Tidak ada kata untuk kemarahan seperti itu. Kata hanya membuatnya tampak kecil.
Marga menarik nafas panjang, menahannya, lalu melepaskan perlahan. Anya duduk di sampingnya—jarak satu lengan—cukup dekat untuk berbagi hangat, cukup jauh untuk membiarkan masing-masing bernapas. Mereka tidak butuh memastikan apa pun sore itu. Keduanya tahu bagaimana rasanya kehilangan pijakan, dan bagaimana rasanya punya tangan yang tidak lepas.
Vino telentang, memandang silang bambu yang berhimpit menjadi semacam kisi-kisi langit. “Kalau hidup punya remote,” gumamnya, “ini momen yang akan kutekan pause. Bukan karena indah… karena aku capek.” Ia tertawa napas—pendek, patah—lalu menutup mata.
Yolanda memeluk dirinya, pipi menempel pada lutut. Maskara yang luntur membentuk sungai tipis. “Aku benci ketinggian,” katanya, terdengar kekanak-kanakan. “Aku benci… suara patah itu.” Helen menatapnya sesaat, lalu membuka ritsleting jaketnya dan meminjamkan tanpa komentar. Yolanda menerimanya tanpa mengucap terima kasih—bukan karena tidak tahu, melainkan karena mulutnya sedang sibuk menyimpan tangis agar tidak tumpah.
Yosi masih di pojok yang sama. Ia menyentuh lengan kacamata, meluruskannya sejajar. Jo sempat melirik, kalimat pendek keluar di antara gigi, lebih pelan dari biasanya, tapi tetap tajam. “Percuma pinter.” Itu bukan debat, bukan penghakiman. Itu mekanisme. Sesuatu di dalam Jo perlu menyalakan api kecil agar tidak padam seluruhnya.
Yosi menatap tanah. Di tanah, ada satu semut yang kesasar dari barisannya, berjalan lingkaran kecil sebelum akhirnya menemukan jejak yang benar. Ia mengikuti dengan pandang, bukan karena tertarik, tapi karena itu satu-satunya hal yang tidak meminta keputusan.
Matahari sore hanya bentuk pucat di balik kabut, seperti koin yang tenggelam di air keruh. Angin menggeser bau kayu basah dan asap lama. Dari kejauhan, sekali saja, terdengar pukulan drum—tunggal, berat, seperti palu besar memukul besi tua. Kemudian sunyi.
“Besok,” kata Marga, hampir tidak terdengar. “Kita harus cari cara sampai besok.”
“Besok,” ulang Anya, menatap garis kotor di telapak tangannya. Kata itu sederhana. Namun di tempat seperti ini, kata sederhana bisa menjadi satu-satunya yang menyelamatkan kewarasan.
Di luar kandang, kabut naik turun seperti napas raksasa yang sedang tidur. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi ketika ia terbangun. Mereka hanya tahu satu hal: ada satu nama yang tak lagi mereka panggil ketika absen. Dan jurang menyimpan suaranya baik-baik.
Selesai membaca Episode 2: Tali Langit