Font: Medium

Navigasi Episode

Perjalanan Terakhir Cover

Perjalanan Terakhir

Episode Saat Ini:
#1 - Minibus
Episode 1

Perjalanan Terakhir

Minibus

Ringkasan Episode

Minibus rombongan siswa mogok di hutan menjelang malam; Pak Damar dan sopir pergi mencari bantuan namun tak kembali. Dalam kegelapan, mereka disergap suku liar dan digiring ke perkampungan bambu yang dingin. Malam pertama membuka pintu ketakutan: kandang, obor, irama drum, dan temuan kain seragam Pak Damar yang compang-camping—tanda bahwa otoritas terakhir mereka mungkin sudah jadi korban.

Minibus itu bergetar pelan ketika menanjak, tubuhnya kecil tapi keras kepala, seperti serangga besi yang memaksa diri merayap ke punggung gunung. Di dalamnya, dua belas anak duduk berdesakan dengan tas carrier menggembung di pangkuan—tenda kecil menonjol dari ritsleting, matras tipis diikat dengan tali rafia. Bau jaket habis dicuci, plastik camilan, dan minyak kayu putih bercampur menjadi aroma yang anehnya hangat.

Anya duduk dekat jendela, menempelkan kening ke kaca yang dingin, menatap kabut yang bertumpuk seperti kain kasa. Rambutnya diikat asal, namun tetap jatuh rapi, dan jaket varsity merahnya kontras dengan abu-abu langit sore. Ia menoleh, entah refleks, ke arah kursi dua baris di belakang: Marga sedang membaca—atau pura-pura membaca—sebuah buku novel yang ia bawa dari rumah; headphone tergantung di leher, tak terpasang. Anya hampir menyapa, bibirnya terbuka sedikit, lalu tertutup lagi. Bukan karena marah. Hanya… canggung. Jarak yang mereka biarkan tumbuh bertahun-tahun tidak tahu harus disingkirkan dengan kalimat apa.

Di kursi paling belakang, Jo menendang-nendang bagian bawah kursi dengan ritme asal, sepatu sneakers barunya putih sekali, membuat Arya dan Tansil—dua satelit setianya—ikut tertawa. Bimo merekam sesuatu dengan ponsel, mengarahkan kamera ke Vino yang berdiri di lorong, memegang botol air mineral seperti mikrofon.

“Selamat sore, hadirin, pendaki, dan mantan-mantan yang belum move on,” kata Vino, menyandarkan pinggul ke sandaran kursi. Senyumnya ringan, tidak terlalu keras seperti biasanya, namun cukup untuk membuat Yolanda mendengus geli. “Hari ini kita belajar bahwa setir mobil bisa lebih sensitif daripada hati manusia. Betul, Pak?” Ia menunjuk ke sopir, lelaki paruh baya dengan jaket cokelat lusuh.

Sopir melirik lewat spion, setengah tertawa, setengah mengabaikan. Guru wali kelas mereka—Pak Damar—mengangkat alis. “Vino, duduk. Kita belum di panggung stand-up.”

“Siap, Pak. Stand-up tinggal stand-up hati saya kalau nggak dilirik-lirik Anya,” gumamnya, lebih pelan. Anya menertawakan diri sendiri, bukan karena gombalannya lucu, melainkan karena cara Vino memuntir ketegangan jadi sesuatu yang bisa ditertawakan sedetik saja. Dalam hati, ia ingin menanyakan kabar Vino seserius mungkin—tentang kabar rumahnya—tapi menahan. Tidak semua hal butuh diseret ke sorotan.

Hendro—jaket bomber hitam, rambut cepak, bahu lebar—menghitung daftar barang bawaan dari kertas kusut. Ia ketua kelas karena tidak ada yang mau, dan ia menerima karena tidak ada yang berani. “Arya sama Tansil bawa kompor gas, kan?”

“Kami bawa Jo,” jawab Arya, menyeringai. “Lebih panas.”

“Kalau kamu kebanyakan bacot, aku bawa kamu turun gunung,” kata Hendro datar, tapi ujung mulutnya naik sedikit.

Yolanda duduk di dekat pintu, memeriksa kuku, memoles lip gloss tipis-tipis. “Aku nggak ngerti kenapa harus ke gunung. Banyak serangga. Kulit aku sensitif.”

Helen, di sampingnya, mengikat rambut—gerakannya anggun dan tenang, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. “Dan kamu tetap ikut, karena kamu butuh foto,” katanya pelan, tidak menatap. Yolanda tidak menjawab, tapi merengut.

Yosi duduk di ujung barisan, menempel ke jendela, buku catatan kecil di pangkuan. Di halaman terakhir ada peta Rinjani yang ia print, dilipat-lipat hingga robek di pertemuan garis. Jo menyenggol pundaknya ketika lewat ke belakang.

“Halo profesor,” sapa Jo. “Kamu mau nulis apa? Doa, biar nggak muntah di tanjakan?”

Yosi mengangkat wajah, kaget. “Aku… cuma lihat jalur. Biar tahu—”

“Biar pinter sendiri,” potong Jo. Arya menirukan suara radio, “Ada pesawat lepas landas, pilotnya Yosi.” Tansil terkekeh. Vino melirik, ingin mengubah topik tapi tersandung pada kalimat yang tidak jadi. Anya membuka mulut hendak ikut menengahi, lalu menutupnya lagi. Pak Damar sedang tidur—bahunya miring, mulutnya terbuka sedikit. Tidak ada yang memanggilnya.

Kabut mengental. Matahari merosot seperti tali yang diputus. Sopir menurunkan gigi, suara mesin merengek. Minibus melompat pelan setiap kali roda melewati lubang jalan. Anya merasa telinganya mendengar sesuatu—sejenis gemertak halus—tapi tidak yakin dari mana.

Lalu, seperti napas yang tertahan terlalu lama, minibus tersentak. Mesin memekik, lampu dashboard berkelip, dan kendaraan itu berhenti. Hening datang begitu tiba-tiba, mereka semua merasa ada sesuatu yang diambil dari ruangan: suara mesin. Yang tersisa hanya detak jam tangan, helaan napas, nyanyian jangkrik dari luar.

Sopir memutar kunci berkali-kali. “Ayo, ayo…” gumamnya. Tidak ada jawaban selain dengung kosong. Pak Damar terjaga, merapikan kemeja.

“Kepanasan.” Sopir menepuk panel, menghela napas. “Radiatornya minta istirahat. Saya sama Pak Damar ke pos,” katanya, seolah-olah pos itu hanya satu tikungan lagi, seolah-olah kabut mempersilakan. “Kalian tunggu di sini. Jangan keluar.”

“Pak, ini jam berapa?” tanya Hendro.

“Masih sore. Saya balik sebentar,” kata sopir.

“Bawa senter,” kata Vino refleks. Sopir tersenyum—sekilas, sih—lalu turun bersama Pak Damar. Pintu menutup pelan. Hawa dingin menyusup dari celah karet jendela.

Mula-mula mereka masih bercanda. Yolanda menyalakan lampu ponsel, memantulkan ke wajah sendiri. “No filter is the best filter,” katanya, memotret sudut bibir. Helen memiringkan kepala, menatap keluar dengan mata yang seperti mencari sesuatu di balik kabut—bukan pos, bukan orang—tetapi arah. Marga menutup bukunya, memasukkan ke tas.

Waktu berubah lengket. Jam di ponsel Anya menunjukkan pukul enam lewat lima belas, lalu enam lewat empat puluh lima, lalu setengah delapan. Sinyal jaringan hilang jadi satu batang, lalu nol. Dinginnya tidak dingin yang menusuk, namun yang mengendap, seperti air mengalir pelan ke bawah kulit.

“Berapa lama sih, pos?” Vino berusaha tertawa. Tidak ada yang menjawab. “Kalian dengar?” tanyanya. “Kayak… peluit?”

Hendro menajamkan telinga. “Bukan. Itu…” Ia tidak meneruskan.

Dari luar, sesuatu bergerak. Bukan satu, beberapa. Ranting patah. Daun tergilas. Anya merasa kaca di dekat pipinya bergetar halus, bukan oleh mesin, melainkan oleh langkah-langkah.

“Pak?” teriak Hendro, setengah berdiri. “Pak Damar?”

Tidak ada jawaban. Hanya kabut yang menelan suaranya.

Obor.

Satu, dua, tiga—lalu belasan. Api kecil mengapung dalam kabut, membesar ketika mendekat, menelanjangi bentuk-bentuk di baliknya: tubuh-tubuh cat putih dan hitam, garis-garis seperti tulang di lukisan, wajah coreng-moreng darah kering, rambut gimbal kusut diikat dengan tali rotan. Mereka membawa tombak, kampak, kayu. Ada yang memukul drum kulit yang gantung di bahu, pukulan itu lambat dan berat, seperti detak jantung hewan besar.

Yolanda berteriak tanpa suara, bibirnya gemetar. “Ada serangga di rambut aku, ada—” Tangannya sibuk menepis, padahal yang merayap di kulitnya hanya ketakutan, bukan kaki-kaki kecil.

“Diam,” bisik Helen, tapi suaranya juga retak.

Seseorang dari luar memukul kaca dengan kayu. Sekali. Dua kali. Pecah. Angin dingin merobek kain kabin, serpih kaca melayang seperti hujan kecil. Suara masuk: teriakan, drum, dengus napas. Pintu dibuka dari luar, tangan-tangan keras masuk, menarik pergelangan, baju, rambut. Hendro menghantam satu tangan dengan siku, tapi kakinya disapu, tubuhnya dibanting ke lantai. Jo memukul bahu seseorang dengan tas carrier—sia-sia. Anya kehilangan sepatunya—sneakers putih terpental ke bawah kursi—ketika dua tangan menariknya keluar, lututnya terseret aspal. Sialan, aspalnya dingin banget, pikirnya, bukan hal paling relevan, tapi begitulah cara otak melindungi diri: memusat pada detail kecil.

Kabut memeluk mereka ketika mereka digiring meninggalkan minibus. Dari sudut mata, Anya melihat sesuatu tersangkut di semak: rompi sopir, cokelat lusuh, koyak di sisi, basah oleh sesuatu yang tampak gelap. Ada senter jatuh di tanah, kaca lensanya retak. Ia ingin berhenti, ingin memastikan itu bukan… jangan dipikir. Jangan. Jangan sekarang.

Perkampungan itu muncul dari gelap seperti mimpi buruk yang berlatih. Pagar bambu tinggi dengan ujung runcing, dua gerbang kayu berat yang diikat serat rotan, dan di tengah—lapangan tanah berpasir yang disapu bersih, altar dari kayu gelap, dan tiang tinggi yang di ujungnya menggantung tengkorak—tidak semuanya manusia. Obor dipasang di sudut dan membiarkan bayangan berjingkat di dinding. Drum terus dipukul, cepat sekarang, jantung hewan yang panik.

Mereka dilempar ke sebuah kandang bambu. Lantai tanah lembap. Bau anyir menyengat, menempel di langit-langit mulut. Vino merangkak—bukan karena terluka, tapi karena napasnya patah-patah—lalu tersenyum kaku. “Kebaikan hati alam semesta: setidaknya kita nggak perlu mikirin ujian besok,” gumamnya. Tidak ada yang tertawa. Ia pun sadar, dan diam.

Pak Damar tidak ada.

Anya memeluk dirinya sendiri. Marga duduk di sebelahnya—cukup dekat untuk merasakan panas tubuh, cukup jauh untuk membiarkan ruang bernapas. Jo berdiri, menggenggam kuat jeruji. “Hei!” teriaknya ke salah satu pria bertato yang berhenti memantau. “Kami siswa! Kami nggak punya urusan sama kalian!” Arya dan Tansil, yang biasanya menimpali, memilih menunduk. Yosi duduk paling pojok, punggungnya menempel tembok bambu, mata menatap tanah. Ia tampak dingin. Bukan karena berani, melainkan karena takutnya seperti dibekukan di balik kulit.

Para lelaki bercat itu mengeluarkan suara yang tidak mereka pahami. Mereka tidak bicara, tidak menawar, tidak menuntut. Mereka menunjuk ke tiang di tengah lapangan dan menepuk-nepuk kayu altar, seperti orang yang mengundang makan malam. Beberapa di antara mereka membawa sesuatu: bendera kecil dari kain merah, pisau batu yang mengilap di ujung, wadah kayu berisi cairan yang menggumpal. Musik drum berhenti all at once—hening datang seperti selimut dilempar.

Dua orang menarik seorang lelaki masuk ke tengah lapangan. Anya melihat baju kemeja biru yang ia kenal. Kancing yang selalu dipasang, name tag yang sering melorot-garisnya. Pak Damar. Mulutnya ditutup kain, tangannya diikat di belakang. Ia melangkah pincang—satu sepatu hilang. Di pipinya ada garis merah panjang, entah bekas belukar atau bekas sesuatu yang lain.

“Pak!” teriak Hendro, berdiri dengan kekuatan yang datang entah dari mana. “Pak!”

Pak Damar menoleh, matanya mencari. Anya tidak pernah melihat mata guru itu seperti itu: selalu tegas ketika marah, selalu penuh sabar ketika menjelaskan, selalu hidup. Malam ini, matanya seperti dua batu dalam air, dingin dan berat, memantulkan api tapi tidak menghangatkan apa pun.

Mereka mengikat Pak Damar ke tiang. Seseorang membawa mangkuk kayu. Cairan di dalamnya—merah gelap, kental, bergerak pelan—ditebarkan ke tanah, ke tubuh, ke altar. Bau amis memukul kepala. Yolanda menutup hidung dengan siku, lalu memekik kecil karena ada sesuatu—serangga?—menyentuh pergelangan kakinya. “Ini jorok, ini jorok…” suaranya mengecil, matanya membulat.

“Yolanda, tenang,” kata Helen, suaranya nyaris berbisik, seolah bicara pada anak kecil. “Tarik napas.”

Pria bertubuh besar, yang sejak tadi memimpin tarian, melangkah maju. Cat putih di wajahnya tebal, garis hitam memotong dari pelipis ke pipi, membuat matanya tampak kosong. Ia mengangkat pisau batu. Sejenak ia menatap langit—menggumam sesuatu, atau memanggil—lalu menunduk. Jeruji di kandang retak oleh genggaman Jo.

“Aku nggak akan diem,” katanya pelan.

“Jo…” Vino menarik ujung jaketnya. “Jangan.”

Pisau itu turun. Tidak cepat, tidak lambat. Seperti sesuatu yang sudah dihafal berkali-kali dan kini diulang untuk penonton. Suaranya… ada suara yang tidak dimengerti telinga, bukan suara kulit, bukan tulang, melainkan sesuatu yang basah dan berat dihentakkan ke udara. Pak Damar menjerit di balik kain, suaranya tertelan drum yang tiba-tiba hidup kembali, memukul-mukul dada tanah.

Anya memalingkan wajah, tapi telinga tidak bisa dikunci. Marga memegang tangan Anya—refleks—erat, kukunya menekan kulit. Anya tidak melepaskan.

Dua orang lain menyiramkan cairan kental dari mangkuk ke kaki Pak Damar. Api dari obor menyambar dengan suara wuff, cepat, liar menjadi lidah-lidah yang mengelus, lalu menggigit. Hangatnya terasa dari kandang; bulu-bulu halus di lengan Anya berdiri. Yolanda menjerit sampai suaranya pecah, “Matikan! Tolong matikan!” Helen memeluknya dari belakang, mengunci pergelangan agar ia tidak berlari membentur jeruji.

Jo memukul bambu dengan bahu, sekali, dua kali. Hendro menahan pundaknya. “Kamu mau apa? Keluar? Mereka lebih banyak.”

“Gue nggak bisa diem,” desis Jo. Mata Jo berkaca-kaca, tapi bukan air mata. Marah dan tak berdaya bercampur jadi sesuatu yang menusuk dari dalam.

Vino menunduk, mengusap wajah dengan tangan kotor. “Pak Damar…” bisiknya. Rasanya ia seperti melihat ayahnya sendiri—mata galak, suara keras—tetapi dengan akhir yang tidak pernah ia fantasi, bahkan dalam mimpi paling buruk.

Panasnya bertambah. Api mendesis saat menyentuh cairan yang menetes ke tanah. Bau daging terbakar—entah apa—membuat Anya ingin muntah. Marga menutup mata. Dalam gelap di balik kelopak, Anya memanggil nama kecil yang ia simpan untuk Marga, yang hanya mereka berdua yang tahu. Bukan untuk diucap, hanya untuk diingat bahwa ada hal baik yang benar-benar pernah ada.

Ketika sorakan memuncak, seseorang—anak muda di lingkaran itu, catnya lebih tipis, tangannya gemetar—mengangkat sesuatu seperti kepala dari karung. Kepala itu hangus separuh, rambutnya terbakar habis, kulitnya melepuh. Anya menjerit tanpa suara. Vino jatuh duduk. Helen menutup mata Yolanda. Jo memalingkan wajah, menumbuk lantai kandang dengan kepalan.

Semua selesai ketika drum berhenti, begitu saja, seperti napas dipotong. Api di altar mengecil, tersisa bara merah yang berkedip. Seseorang menyiram tanah dengan air dari tempayan, membuat lumpur licin. Mereka meninggalkan tiang—dan apa pun yang terikat di sana—seperti orang yang baru selesai makan malam, puas, dan mengantuk.

Kandang jadi kubus hening yang penuh napas tertahan. Tidak ada yang tahu harus mengucapkan apa. Kata-kata yang biasa dipakai di sekolah—PR, rapat OSIS, latihan basket, candaan—tidak punya tempat di sini.

Hendro menatap Anya, lalu menatap Jo. “Besok,” katanya, suaranya serak. “Kalau ada kesempatan, kita cari jalan keluar.”

“Besok?” Yolanda tersedak tawa sinis yang bercampur tangis. “Kamu pikir ada besok?”

“Dengar aku, Yol,” kata Helen, lembut tapi tegas. “Kita perlu kepala dingin. Kalau kamu teriak terus, mereka dengar.” Yolanda menggigit bibir, mengangguk—sekali—lalu menunduk.

Marga menyandarkan kepala ke jeruji, memejamkan mata. Anya melihat ke atas: langit hitam pekat, bintang-bintang seperti jarum kecil yang ditusukkan ke kain gelap. Di luar kandang, obor-orb itu satu per satu mati, dan kegelapan mengambil alih. Kegelapan yang tidak kosong. Kegelapan yang memegang sesuatu di tenggorokannya dan belum memutuskan kapan akan melepaskannya.

Di pojok kandang, Yosi masih duduk. Lutut ditarik ke dada, buku catatannya hilang entah di mana. Seseorang—tidak jelas siapa, mungkin Jo, mungkin Arya—berbisik sinis di antara gigi: “Lihat tuh, pinter juga nggak ada gunanya.” Yosi tidak menoleh. Ia menatap tanah, jemari memegang udara seperti mencari sudut kertas. Dalam dingin malam yang tak pandai memeluk, ia terlihat biasa saja: anak laki-laki yang kehabisan kata, di situasi yang menelan semua kalimat.

Anya menutup mata. Yang terakhir ia ingat sebelum tidur yang tidak benar-benar tidur adalah suara Marga berbisik tanpa sadar—mungkin pada dirinya sendiri, mungkin pada langit—sebuah kalimat pendek yang sebenarnya tidak membantu, tapi juga tidak menyakiti: “Besok. Kita harus sampai ke besok.”

Malam menutup mereka, rapat. Dan besok menunggu—tanpa janji apa pun.

Selesai membaca Episode 1: Minibus

Perjalanan Terakhir