Font: Medium

Navigasi Episode

Perjalanan Terakhir Cover

Perjalanan Terakhir

Episode Saat Ini:
#10 - Ruang Tanpa Jendela
Episode 10

Perjalanan Terakhir

Ruang Tanpa Jendela

Ringkasan Episode

Permainan pasir putih memindahkan tiga batu ke titiknya membuka pintu bambu menuju lorong modern: dinding putih, kamera, panel, dan monitor—perut tersembunyi dari “kamp”. Di sana, para “korban” ternyata hidup—Vino, Tansil, Bimo, bahkan Pak Damar dan sopir. Yosi muncul—tenang, rapi—dan mengungkap panggung besar: prostetik, jaring, sponsor, penonton—balas dendam yang lahir dari luka-luka diejek. Evakuasi mengetuk; Jo–Marga–Anya melangkah keluar hutan dengan janji yang belum lunas—halaman baru sudah terbuka, jendela akan mereka pilih sendiri.

Kabut pagi itu seperti embun yang tidak jadi air mata. Tipis, dingin, mengambang rendah. Di kandang, tiga tubuh bangun pelan: Jo menggulung sakit dari bahu ke pinggang seperti karung beras, Marga duduk tegak sambil menyortir napas, Anya menatap bekas simpul merah di pergelangan yang tak juga hilang. Pintu kecil altar—yang semalam memuntahkannya kembali—tertutup rapat, meninggalkan garis-garis kuku di ingatan.

Tak ada yang menyebut “besok” pagi ini. Kata itu duduk di tengah-tengah, seperti tamu yang belum dipersilakan bicara.

Gong dipukul sekali—bunyi yang lebih bulat daripada biasanya. Para penjaga bercat berbaris dua, membawa baki kayu dengan tiga mangkuk tanah liat. Dalamnya: air bening. Mereka menyodorkannya ke jeruji. Anya ragu setengah detik—lalu minum, seperti menandatangani sesuatu yang ia tidak baca. Jo meneguk cepat; air itu dingin, menenangkan tenggorokannya yang terbakar. Marga menyesap saja, menyisakan sebagian—kebiasaan lama: selalu sisakan sesuatu untuk nanti.

Pemimpin suku datang terakhir. Cat putih-hitam di wajahnya tidak sebanyak kemarin; malam telah mencuci sebagian, menyisakan garis-garis yang justru lebih jelas. Di tangannya: tali kulit yang ujungnya terhubung ke lonceng kecil. Ia berdiri saja, menatap mereka lama. Lalu mengangkat tiga jarinya—tiga—dan menurunkannya satu-satu sampai tinggal satu. Isyarat sederhana yang membuat jantung memukul rusuk: babak terakhir.

Mereka diarak ke lapangan. Pendopo dibersihkan; menhir dibiarkan dingin. Pada tanah di depan altar, para penjaga menancapkan delapan tiang kecil membentuk persegi, tinggi sepinggang. Di dalamnya, mereka menabur pasir putih—entah dari mana pasir itu—membentuk lantai baru yang kontras dengan tanah gelap di luar. Di sisi kiri persegi, berdiri pintu bambu setinggi orang dewasa, dengan kunci sederhana; di sisi kanan, sebuah gong kecil digantung rendah, tali pemukulnya digulung.

Di atas pasir, mereka menaruh tiga batu bulat pipih—hitam, licin—di tiga titik berbeda. Di masing-masing batu, diukir lambang kecil: lingkaran, segitiga, garis miring ganda. Simbol-simbol itu membuat udara teratur.

Pemimpin mengangkat tangan. Seorang penjaga menggulung kain penutup sebuah papan di pinggir: muncul gambar-gambar kasar—alur permainan yang bahasanya bukan milik mereka, tapi logikanya bisa dipinjam. Garis panah dari batu ke gong, dari gong ke pintu, dari pintu ke… tanda X.

Marga menarik napas, menatap cepat, menyusun peta. “Ini…” suaranya sangat rendah. “Tiap batu harus dipindah ke titiknya, tanpa meninggalkan jejak di pasir di luar garis. Setelah itu gong dipukul, pintu dibuka.”

“Dan X?” Jo mengangkat dagu.

Marga menelan. “X biasanya berarti batas… atau korban.”

Anya menggeser posisi kakinya. Pasir putih itu tampak lembut, tapi siap mengkhianati setiap jejak.

Pemimpin menunjuk Anya, lalu batu lingkaran. Ia menunjuk Marga, lalu batu garis miring ganda. Ia menunjuk Jo, lalu batu segitiga. Lantas ia menggambar gerakan memutar, menepuk dada sendiri, dan menunduk dalam-dalam. Sebuah upacara singkat: mulai.

Pasir yang Mendengar

Marga menggulung lengan baju. “Ikuti ritme,” bisiknya. “Pasir ini seperti telinga. Kalau kita kasar, ia berteriak.”

Jo berdiri di pinggir garis, menempatkan batu segitiganya di telapak. Beratnya tidak seberapa, tapi licin mengundang alpa. “Gampang,” gumamnya—tanggapan otomatis yang sebenarnya ia tujukan pada dirinya sendiri. Ia menunduk, menaruh batu di pasir, menyeret sedikit, membentuk parit tipis. Marga menggeleng. “Bukan seret. Angkat, geser pelan, tumpu di ujung jari.”

Anya mengamati—mata seperti belalai kecil yang menangkap detail. Ia meletakkan batu lingkaran, menyiapkan jari-jari kaki yang telanjang menyentuh pasir. Jangan tibakan. Peluk dari bawah. Batu itu ia angkat satu-sentimeter-satu, dipindahkan seperti bayi yang ditidurkan ulang. Pasir di bawahnya bergerak—tapi bukan panik. Jo meniru. Batu bergerak, garis-garis kecil terbentuk—seolah-olah pasir memberi izin.

Tiga batu berpindah perlahan, seperti planet menempuh orbit yang disepakati. Keringat menetes ke pasir dan melahirkan titik abu-abu. Di luar persegi, penonton bercat berdiri diam, seperti jam dinding yang sudah terlalu lama menemani rumah orang.

Marga bergerak paling pelan. Ia memilih melambat ketika jari telunjuknya merasakan butiran lebih kasar—bagian pasir yang menumpuk. “Berat pindahkan ke tiga jari,” bisiknya ke Anya. “Biar jejaknya tidak mematuk.”

Anya mengangguk, menyesuaikan. Jo menahan nafas di beberapa titik—hari ini ia mengakui bahwa menahan nafas adalah cara orang yang dulu sering ditertawakannya. Batu-batu mendekati titik-titik ukiran.

Setengah perjalanan, lonceng pemimpin berbunyi sekali—pendek. Para penjaga berbalik ke arah utara. Dari sana, terdengar seruling tulang—nada rendah, diseling jeda. Anya merasakan rambut di tengkuknya berdiri. “Apa?” tanya Jo.

“Perubahan,” jawab Marga.

Perubahan itu datang sebagai bayangan. Dari balik hutan utara, dua orang digiring masuk ke lapangan. Yang satu—Helen—wajahnya pucat tapi bersih dari darah, rambutnya dikuncir ketat, pita merah di pergelangan masih ada. Bibirnya mengatup—datar—namun mata bergerak cepat, menghitung, menilai. Yang satu lagi—Yosi—langkahnya pelan seperti orang keluar dari ruangan gelap. Kacamatanya hilang; mata tanpa bingkai itu membuat wajahnya tampak lebih muda, nyaris polos. Di pipi ada bekas debu halus, di leher sisa garis merah tipis. Ia ditahan dua penjaga, tapi tidak diseret.

“Yosi,” Anya menahan napas agar namanya tidak tergelincir jadi jerit. Jo mematung setengah detik, rahang mengetat. Helen menyapu lapangan sekali, singkat—terakhir berhenti di pasir persegi—lalu menatap pemimpin suku dengan tatapan yang bukan protes, bukan mohon: tatapan orang yang paham peran.

Pemimpin menunjuk Helen, lalu menepuk tiang kanan persegi. Penjaga membawa Helen ke sisi gong. Ia berdiri di sana, tepat di bawah tali pemukul, tidak menyentuh apa pun. Seperti patung yang diberi tugas bernapas.

Yosi dibawa ke sisi pintu. Pukulannya tidak kejam, pegangannya tidak keras—seakan-akan ia bukan ancaman. Ia menunduk, menatap ujung jari telapak tangannya sendiri. Ada bekas tinta merah tua di sana—luntur. Marga melihatnya. Otaknya menaruh catatan itu di laci.

Pemimpin memukul gong sekali—nada tinggi. Permainan jalan lagi.

Batas

Mereka melanjutkan memindahkan batu. Kaki Anya sesekali menyentuh pasir di luar garis—Marga menggeleng, memberi tanda kecil dengan dagu—mundur, atur ulang, ulangi. Jo hampir menjatuhkan batu—ia memaki di dalam mulut, menahan agar suaranya tidak menabrak udara.

Ketika batu Anya tinggal dua jengkal dari titik ukirannya, pasir menciut di bawahnya—lapisan tipis di bagian itu ternyata ditopang jaring halus. Batu turun lebih banyak daripada yang dia perkirakan. Jari Anya terpeleset. Batu miring. Jejak terbentuk tajam. Serentak, lonceng pemimpin berdenting—sekali—memberi peringatan. Satu lonceng, satu napas hilang.

Anya menahan agar bibirnya tidak bergetar. Ia menarik batu kembali ke posisi semula, menaruh telapak di pasir, mendeteksi ketebalan. Di kanan—lebih padat. Ia menggeser ke kanan satu jari. Batu stabil.

Waktu di lapangan berubah kental. Lengan bergetar, mata berair bukan karena sedih. Satu batu lagi hampir tiba. Jo meletakkan batu segitiganya tepat di ukiran. Pasir diam. Jo mundur satu langkah, mengangkat dagu ke arah Marga—kecil—satu.

Batu Marga tiba. Ia meletakkannya seperti menaruh nama di batu nisan kecil. Dua.

Anya menahan napas untuk miliknya. Sisa satu jengkal. Jari-jemarinya memerah, sendi-sendi kulit memutih. Ia menurunkan batu—pelan—sangat pelan—dan ia tahu: untuk gerakan ini, kata “pelan” bukan lawan dari “cepat”, melainkan lawan dari “salah”. Batu menyentuh ukiran—pas. Pasir tidak protes.

Dalam detik yang tidak besar itu, lapangan seolah menarik napas bersama-sama. Anya mengangkat tangan—selesai.

Pemimpin menggerakkan dua jarinya cepat ke arah gong. Helen mengerti lebih dulu daripada pita suaranya. Ia melangkah—bahu setengah turun agar lonceng-lonceng kecil di ambang tidak terantuk—meraih tali pemukul—TANG!—suara yang memantul ke jantung seperti golongan darah dipanggil namanya. Pemimpin menunjuk pintu. Yosi—yang sejak tadi menunduk—mengangkat wajah seperti orang yang baru diberi gilirannya. Ia mendorong palang bambu—terbuka.

Di balik pintu bambu, terhampar lorong gelap yang berbeda dari yang sudah-sudah: dindingnya bukan bambu, melainkan kayu halus yang dilapisi minyak. Bau logam lebih tajam, cahaya di ujungnya bukan obor, melainkan lampu yang temaram, kuning muda, yang tidak berkerlap-kerlip. Ada sesuatu yang asing-dan-akrab pada cahaya itu; Anya tahu tanpa kata bahwa seperti inilah lampu-lampu di rumah. Perutnya mengerut menahan sesuatu.

Pemimpin mengangkat telapak ke arah Jo dan Marga: masuk. Ia menunjuk Anya—tunggu. Anya membuka mulut, menutupnya, melepaskan—tidak ada yang bisa ia pegang selain tatapannya sendiri yang ia kirimkan ke punggung dua temannya. Jo menoleh sepersekian. Marga tidak—tapi bahunya geser setipis helai rambut, mengartikan: ada aku.

Mereka melangkah masuk. Lantai kayu bergema pendek di telapak kaki. Cahaya lampu merayap ke kulit, menghangatkannya tipis—tidak seperti matahari, tidak seperti obor—seperti listrik.

Lorong itu pendek. Ujungnya pintu besi. Bukan yang berkarat. Bukan yang semu. Besi yang dibuat di tempat yang tahu cara menakar milimeter. Di atasnya, terpasang kamera kecil—mata hitam tak berkedip. Jo berhenti. Marga menatapnya selintas, lalu menatap kembali ke kamera. “Apa pun yang terjadi di sini,” katanya pelan, “kita… berdua.”

“Gue dengar,” jawab Jo.

Pintu besi membuka sendiri—hampir tak bersuara. Ruangan di baliknya menelan lorong, menelan mereka. Dan dalam satu langkah, dunia mengubah kulitnya.

Ruang Tanpa Jendela

Udara di dalam tidak berbau hutan. Tidak ada bambu, tak ada arang. Lantai ubin abu-abu, dinding cat putih yang bersih dengan cara yang menghina semua luka di luar sana. Di kanan, deret lemari besi dan panel dengan tombol-tombol kecil. Di kiri, beberapa kursi baja: dingin, tebal, seperti menunggu rapat yang tidak akan dimulai. Di dinding depan, terpasang monitor besar—hitam, belum menyala. Di pojok, ada meja operasi—bukan ala rumah sakit, tapi cukup membuat nadi mempercepat langkahnya.

Dan di tengah ruangan, di bawah cahaya lampu yang bukan obor, duduk orang-orang yang mereka kenal.

Mereka tidak duduk di kursi. Mereka diikat—tangan ke belakang, kaki ke kaki kursi—tapi bernapas. Tansil menunduk, bibirnya bergetar, matanya terbuka setengah; Bimo pucat, keringat di pelipisnya belum kering; Vino—ya Vino—memandang Jo seperti sedang melihat gelas air di tengah gurun. Di ujung, Pak Damar—wajahnya tanpa topeng, tanpa darah; baju olahraga compang—dan sopir—lemah tapi hidup. Di kursi belakang, tertutup setengah bayangan, ada beberapa siswa lain—termasuk Helen, sudah tanpa pita di pergelangan, duduk saja seperti orang yang mengamati eksperimen. Yosi berdiri di sampingnya—kacamata tanpa bingkai, mata kosong-bening yang sulit dibaca—tapi berdiri tanpa penjaga di kiri-kanannya.

Jo melangkah maju seolah-olah lantai meminta itu. Bahunya yang terbakar, punggung yang memar—semuanya menyingkir sementara. “Vino,” suaranya keluar bukan sebagai pertanyaan, tetapi sebagai pemeriksaan realitas. Vino mengangguk—sekali—senyum meletup basah: “Bang… lu… lu beneran di sini….”

Marga menelan, menatap satu-satu—menghitung napas, menghitung hidup—hingga sampai ke kursi paling ujung, kosong. Ia paham kursi kosong itu memegang tempat untuk sesuatu yang belum diberi izin masuk ke ruangan ini.

Monitor menyala—merekah seperti mata. Di layar, muncul gambar kamp di atas: pendopo, altar, kandang. Sudutnya bukan sudut mata manusia di bawah; sudutnya sudut kamera yang dipasang tinggi. Gambar berpindah: labirin, kolam, jembatan gantung. Semuanya terlihat jernih, terlalu jernih. Marga merasakan kulitnya meremas tulang.

Pintu di belakang mereka menutup rapat. Kunci digital mengembus suara klik yang sopan. Di dalam ruangan, seseorang melangkah ke tengah tanpa suara. Sepatu hitam menginjak lantai ubin seperti titik-titik ellipsis. Jo menoleh. Marga menoleh. Orang itu berdiri di bawah lampu.

Yosi.

Bukan Yosi yang punggungnya bengkok di pojok kelas. Bukan Yosi yang kacamata tebalnya menjadi sasaran tawa. Yosi yang berdiri tegak—pundak bukan lagi bagian yang minta maaf. Bajunya bersih, sederhana, tapi rapi dengan cara yang tidak datang dari kamp: kaus hitam, celana panjang abu-abu, jam di pergelangan—kecil, tipis, mahal yang tidak berteriak. Di lehernya tergantung kartu akses yang tidak ia sembunyikan.

“Jo.” Suaranya halus, datar, tanpa dorongan untuk menang. “Marga.”

Jo mematung setengah detik, lalu tawa pendek yang bukan tawa keluar dari tenggorokannya. “Kamu… dari mana?” Ia bukan bertanya dari hutan mana; ia bertanya dari dimensi mana.

Yosi tidak menjawab dulu. Ia berjalan ke samping, menekan satu tombol di panel. Pada monitor, jembatan gantung diputar ulang—Arya melompat—tangan yang luput—kabut menelan. Yosi berhenti memutar sebelum suara “Arya” pecah. Ia menekan tombol lain: kolam merah—Vino menghilang—permukaan tenang. Tombol lain: labirin—dinding menelan Tansil dan Bimo. Tombol lain: malam—tiang—api—Hendro—Yosi menahan satu detik terlalu lama di frame itu. “Kamu paham apa yang mereka lakukan kepada kita selama ini?” Jo menyeringai—panas, gosong. “Atau kamu cuma suka nonton?”

“Selama ini… siapa?” Marga menyela cepat. Matanya menatap monitor, menatap Yosi, menatap kartu akses, menatap lampu. Otaknya berlari, tapi mulutnya memilih kata-kata yang tidak jatuh. “Yos.”

Yosi memutar minimal wajahnya ke Marga, menahan di sana. “Aku akan jelaskan. Tapi bukan dengan suara yang kamu benci,” katanya tenang. Ia menatap Pak Damar yang terikat, sopir yang menunduk. “Karena beberapa orang di ruangan ini… juga penontonnya.”

Udara menegang—bukan karena marah, melainkan karena otak memecah hal-hal yang sampai barusan diikat rapi. Pak Damar menatap Yosi—campuran malu dan marah di wajahnya seperti tinta yang belum kering. “Kamu…,” suaranya serak, tidak selesai.

“Sebentar,” Yosi mengangkat telapak, bukan memerintah, melainkan menyusun ritme. Ia berjalan ke kursi-kursi sisi, melepas satu per satu simpul yang tidak keras; tali jatuh ke lantai seperti ular kecil yang pensiun. Vino meraba pergelangannya, memandangi kulitnya yang berlekuk, setengah ingin memukul sesuatu. Tansil menatap Jo dari bawah, mata basahnya kehilangan tata krama.

“Kamu bikin ini?” Jo akhirnya menyiapkan kalimat. Ia mengangkat kedua tangan, mengitari ruangan dengan telunjuk—monitor, kursi, mesin. “Kamu yang bikin semua ini?”

“Seseorang harus,” jawab Yosi. Ia tidak mengangkat suara—bahkan saat infonya gila, suaranya tetap meminjam cara-cara kelas. “Karena tidak ada yang pernah mendengar ketika aku bicara.” Ia berbalik, menatap Marga. “Kamu pernah dengar sesekali. Itu mengapa aku bicara pada kalian berdua terakhir.”

Marga tidak bergerak. “Kenapa kami?”

“Karena Jo… adalah hasil dari dunia yang paling pandai kita biarkan menjadi gurun,” Yosi menatap Jo tanpa benci. “Dan kamu, Marga… adalah peta yang masih sabar di tangan orang yang tidak mau membaca.” Ia berhenti sejenak, menggeser napas. “Aku butuh pemain yang mampu sampai finis. Agar penontonnya menatap lama-lama, dan menyesal.”

“Penonton…” Jo melirik para penjaga yang tidak ada. “Mereka siapa?”

Yosi menatap monitor—kamera berganti sudut, memperlihatkan sebuah ruang lain—lebih besar dari ruangan ini—berisi kursi-kursi berbaris. Beberapa diisi orang—punggung-punggung berpakaian rapi, wajah-wajah memudar oleh cahaya layar—melihat kamp dari jauh. Di dinding ruang itu ada kata yang bukan bahasa suku, bukan bahasa hutan: LOGISTICS, SECURITY, OPS. Marga merasakan lambungnya naik.

“Sponsor,” kata Yosi pelan. “Relawan. Staf. Pemain lama. Penonton. Sebagian dari mereka tidak mengerti apa yang mereka biayai. Sebagian sangat mengerti.” Ia menatap pak Damar lagi. “Sebagian… merasa ini pendidikan.”

Pak Damar memejam mata sepersekian detik—malu memalukan orang dewasa. “Aku pikir…,” suaranya terbata. “Aku pikir… mereka….”

“Anak-anak belajar paling cepat ketika mereka ketakutan,” Yosi menirukan suara yang bukan suaranya—suara yang pernah mereka dengar di ruang guru saat berantem halus. Yosi tidak melanjutkan. Ia menekan tombol lain. Monitor menampilkan pintu di balik pendopo yang mengarah ke ruangan ini. Lalu menampilkan tata letak jebakan: jaring, panel lantai, panel jatuh—dengan coretan-coretan teknis. Marga merasa dirinya seperti baru saja membaca peta kota dari helikopter yang tidak ia pesan.

“Apa kamu… makan orang?” Jo bertanya tiba-tiba—kalimat tolol yang halus, tapi harus keluar, karena kebohongan paling besar di udara adalah tentang itu. Yosi menatapnya—mata jernih, tidak kabur. “Tidak. Tidak satupun.” Ia menoleh ke panel lain, menyalakan rekaman di balik layar: ruang operasi mini, prostetik, gel merah, heater—teknik panggung. Itu menjelaskan Pak Damar yang “terbakar”. Itu mungkin menjelaskan kolam. “Tapi kamu lihat darah,” Yosi menambahkan pelan, “dan tubuh percaya apa saja kalau warna dan bau tepat.”

“Lalu… Arya,” suara Jo pecah. “Dia jatuh.”

“Jatuh,” kata Yosi. “Ke jaring. Ke bantal tebal. Turun ke terowongan. Dibius. Disimpan. Diseret. Disuapi. Dipelihara. Ditonton.” Ia berkata “dipelihara” seperti orang menyebut cara merawat binatang. Jo menegakkan bahu, seperti hendak memukul sesuatu—apa pun—lalu menurunkannya lagi ketika menyadari pukulannya hanya akan menghancurkan udara.

“Kenapa?” kata Marga—akhirnya menanyakan kata yang paling bising. “Kenapa sejauh ini?”

Yosi melangkah sedikit—tiga langkah kecil. “Karena semua di kelas—hampir semua—menganggap menghina itu permainan. Kalian melatihnya tiap hari. Kalian naik ke panggung masing-masing, menarik tirai canda, melempar kata-kata yang tajam, lalu pulang, lupa, tidur. Aku—” ia berhenti. “Aku punya uang. Aku punya waktu. Aku punya rancangan. Aku tidak punya yang kalian punya: orang.”

Vino tersedu, menatap lantai. “Aku…” katanya pelan, menahan sesuatu yang ingin keluar. “Maaf.”

Yosi memutar wajah, menatap Vino lama—bukan dendam, bukan ampun. “Aku tidak datang untuk memanen maaf,” katanya datar. “Maaf tidak kembalikan satu pun hari orang yang kamu tertawakan.”

“Lalu apa?” Jo melangkah setengah, tubuh condong, bukan menantang—minta instruksi. “Kamu mau kami… takut?”

“Aku mau kalian ingat,” jawab Yosi. Kalimatnya ringan, tetapi mengikat. “Ingat rasanya tidak punya jendela. Ingat rasanya dikurung oleh peran yang kalian tidak pilih tapi kalian biarkan. Ingat rasanya lapar pada sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke mulut.”

Marga menahan napas, mendengar kata-kata itu menabrak dinding-dinding di dalam dirinya sendiri. Ada bagian yang ingin menyangkal; ada bagian yang ingin mengerti; ada bagian yang mau menyimpan hanya karena menyimpan adalah cara satu-satunya bertahan.

Sebelah kanan ruangan, sebuah pintu kedua terbuka. Dari sana, dua orang berseragam hitam masuk membawa tas—merapikan kabel, menutup beberapa panel, memberi isyarat “segera”. Yosi menoleh sebentar, cukup untuk menukar informasi tanpa suara, lalu kembali ke dua temannya.

“Permainan di atas akan berakhir hari ini,” katanya. “Koran internal besok akan menulis tentang evakuasi oleh otoritas lokal. Kalian akan diantar pulang. Kalian akan punya trauma. Kalian akan—mungkin—punya satu sama lain. Dan aku—” ia mengangkat kartu akses di lehernya—“akan menghilang dari catatan kalian selama satu musim.”

“Kalau aku tidak mau lupa?” tanya Jo, suaranya rendah. Itu bukan ancaman. Itu niat.

“Bagus.” Yosi memiringkan kepala. “Mungkin untuk pertama kalinya, kita berada di sisi yang sama.” Ia menggeser pandang ke Marga. “Dan kamu… tolong simpan peta yang kamu buat. Bukan untuk keluar dari hutan. Untuk keluar dari hal-hal yang kalian bangun sendiri nanti.”

Marga memegang bendera kecil—yang kemarin ia gulung dan simpan di saku—dan untuk pertama kalinya, benda itu terasa seperti kompas. “Kenapa kamu bilang semua ini ke kami berdua?” bisiknya. “Kenapa bukan ke semua?”

“Karena semua tidak perlu tahu sekarang.” Yosi menatap mereka bergantian. “Satu-satunya cara cerita bekerja adalah ketika waktu dipilih, bukan dipaksa. Kamu tidak akan percaya bila kamu belum selamat.”

Dia melangkah ke panel, menekan tombol terakhir. Lampu ruangan meredup, monitor menampilkan tulisan: RESET—lalu padam. Di dinding samping, lempengan besi bergeser, memperlihatkan jalan keluar—lorong panjang ke siang. Jauh di depan, suara sirene—bukan seruling, bukan gong—mendekat seperti cuaca.

Vino bangkit goyah. Bimo memegangi kursi. Tansil memanggil “Bro”—kali ini bukan mantra bodoh. Pak Damar menyandarkan punggung ke dinding, matanya berkaca—bukan karena sandiwara; karena absurditas menagih.

Yosi menatap Jo lama, lalu menatap Marga. “Kalian akan lihat wajah yang kalian benci di koridor keluar,” katanya pelan. “Kalian akan ingin melakukan hal-hal kecil yang memuaskan. Jangan. Tunda. Ada musim lain untuk hal-hal seperti itu.” Ia menunduk—bukan hormat, bukan minta maaf—melainkan pamit. “Selamat pulang.”

Jo tidak bergerak. Marga juga tidak. Anya belum ada. Marga menoleh ke Yosi sekali lagi. “Anya?” suaranya retak kecil.

Pintu di belakang—yang menghubungkan ke altar—berdenting. Anya melangkah masuk, dikawal dua petugas berseragam hitam yang matanya kosong seperti cermin. Wajahnya pucat, tapi matanya terang. Ketika melihat Jo dan Marga, bibirnya otomatis mencari bentuk yang aman—tidak senyum, tidak menangis—hanya ada. Mereka bertiga berdiri berdekatan untuk pertama kali di ruangan yang tidak meminjam bahasa hutan.

“Besok,” kata Anya pelan. Kata itu, di ruangan ini, terdengar baru.

“Besok,” sahut Marga.

Jo menatap Yosi untuk terakhir kali. “Kalau kita ketemu lagi,” katanya tanpa ancaman di belakangnya, “kamu akan dengar suara gue.” Baris itu bukan war. Itu janji.

Yosi mengangguk kecil. “Itu gunanya punggung,” balasnya enteng—mengingat punggung Jo yang hari ini belajar menyimpan lebih banyak daripada beban. “Agar kepala berani.”

Mereka berjalan menyusuri lorong. Di ujung, petugas tubuh-kaku memberikan selimut, botol air, dan kata-kata kosong yang diperlukan protokol. Di luar, siang menerobos seperti orang yang terlambat—bergerak cepat, meminta maaf dengan cahaya.

Ketika kaki mereka menyentuh tanah yang bukan milik kamp, suara sirene memantul ke bukit, menggeser kabut. Dari hutan, burung yang selama ini diam memutuskan bersuara. Di belakang, pintu besi menutup. Tidak ada gong. Tidak ada seruling. Hanya suara angin membawa pergi bau minyak yang ditinggalkan.

Mereka tidak memeluk. Mereka tidak pingsan. Mereka berjalan. Anya di tengah—mengatur napas seperti di jembatan; Marga di kiri—menghafal jalan baru; Jo di kanan—membiarkan punggungnya menyampaikan rasa sakit kepada bumi, satu langkah, lalu satu lagi.

Di tepi hutan, ada garis kuning—polisi—yang merintangi dunia dari dirinya sendiri. Di sana, orang-orang berseragam, orang-orang berrompi, orang-orang berbolpoin—semua sibuk menjadi bagian penutup buku yang belum selesai. Di sudut, sebuah kamera televisi menyala, merekam sesuatu yang tidak akan mengerti bab satu sampai tiga.

Jo menoleh sekali ke arah pohon, ke arah udara yang menyimpan suara gong. “Ini belum selesai,” katanya sangat pelan.

“Belum,” sahut Marga.

Anya menggenggam ujung lengan jaketnya. “Tapi kita sampai di halaman berikut,” ujarnya. Ia tidak tahu cerita ke depan seperti apa. Ia tahu halaman ini tanpa jendela; jendela akan dibangun; pintu akan dipilih. Dan kata “besok”—untuk pertama kali sejak bus mogok di jalan—terdengar seperti ruang.

Mereka melangkah.

Di tempat yang tidak mereka lihat—ruang penonton yang tadi muncul di monitor—sebuah kursi kosong berayun pelan, masih hangat. Di bawahnya, satu kartu akses ditinggalkan tanpa nama. Dan jauh di bawah pendopo, di ruang yang lampunya sudah dipadamkan, kamera kecil tetap berkedip merah, menyimpan sisa-sisa cerita seperti lemari menyimpan baju—menunggu musim.

Selesai membaca Episode 10: Ruang Tanpa Jendela

Perjalanan Terakhir